Candlestick
Seri pertama yang saya pikir akan sangat menarik untuk dibahas di Pojok Saham adalah mengenai candlestick. Selain mudah dan memberikan dasar analisa teknikal yang baik kepada trader pemula, candlestick ini juga menarik untuk diikuti. Nama-nama candlestick terkesan mistis dan menjadi jargon yang sering disebut di dalam dunia persahaman nasional. Siapa sih trader yang tidak mengenal istilah-istilah: body full candle, hammer, hanging man, shooting star? Itu semua adalah nama-nama di candlestick.
Baiklah sekarang kita mulai saja dengan bagian pendahuluan. Tidak seperti banyak artikel di sini yang sebelumnya straight to the point, kali ini saya akan membahas secara mendalam salah satu aspek hingga tuntas. Saya mungkin membutuhkan masukan dari kamu, sebagai trader jika ada poin-poin yang mungkin saya lewati.
Peta
Ada alasan baik mengapa candlestick merupakan chart yang paling disukai trader di Indonesia. Dari beberapa jenis chart yang kita kenal, candlestick merupakan jenis chart yang secara visual paling mudah untuk dikenali polanya. Hal ini bukan berarti candlestick selalu benar, karena semua pola teknikal pasti punya tingkat kesalahan, namun candlestick paling mudah dilihat.
Jika kita analogikan analisa teknikal adalah seperti membaca peta, maka chart candlestick adalah peta dengan informasi paling lengkap. Setidaknya ada tiga kelebihan candlestick dibandingkan dengan chart lainnya, yaitu:
- Candlestick secara visual memberikan gambaran pertarungan antara pembeli dan penjual dengan jelas;
- Candlestick, seperti chart lainnya, menunjukkan trend, tapi tidak hanya itu, candlestick juga menunjukkan sumber kekuatan di belakang trend tersebut;
- Pola-pola candlestick sering dapat memberikan petunjuk reversal atau pembalikan arah lebih cepat daripada jenis chart lainnya.
Jepang
Jepang menjajah Indonesia dari tahun 1942 – 1945. Candlestick “menjajah” chart instrumen finansial dunia sejak tahun 1960-an dengan diterbitkannya buku Candlestick oleh Steve Nison dan masuk ke Indonesia tahun 1990-an bersama buku Santo Vibby. Tapi Jepang, negara asalnya, telah menggunakan candlestick setidaknya sejak tahun 1800-an.
“Trading” dimulai di Jepang sejak tahun 1600-an, ketika para daimyo (penguasa) masih saling berperang. Apa yang diperdagangkan melalui bursa waktu itu? Tidak lain adalah makanan pokok kita, beras. Homma adalah trader beras yang paling terkenal pada saat itu. Dia hidup pada tahun 1700-an. Setelah 60 tahun memperhatikan pergerakan harga beras, dia mengambil beberapa kesimpulan pola pergerakan harga, yang nantinya diterjemahkan di awal jaman Meiji menjadi candlestick yang kita kenal sekarang ini. Pola-pola harga itulah yang membantu Homma (dan trader lainnya) untuk membaca psikologi pasar.
Lanjutkan ke Seri Candlestick.