Fibonacci Retracement adalah indikator kelas mahir. Anda boleh bilang ini indikator paling absurd karena cuma menggunakan kombinasi angka-angka. Tapi, kami bisa buktikan sebaliknya.
IHSG sudah kembali menunjukkan keperkasaannya. Bulan Juni ini kemungkinan besar akan berlanjut ke atas level 2800, asalkan level Fibonacci 50% di 2750 bisa dilalui.
Sangat sedikit orang yang bisa melakonin trading dengan baik dan benar. Banyak trader pemula, setiap hari menatap layar monitor, karena ilmu belum cukup, cuma bisa dugem (duduk gemetaran) melihat harga naik turun nggak keruan tanpa pegangan (he he…).
Kalau kita perhatikan, selama hampir satu dekade ini, setiap tahun IHSG selalu koreksi menyentuh MA200 sebelum melanjutkan rally (lihat tahun 2003, 2004, 2005, 2006, 2007), dan crash jika tembus, itupun masih sempat rebound dan menyentuh MA200 dari bawah (2008). Maka MA200 (garis warna biru) ini kami sebut induknya indikator IHSG. Kalau Anda seorang fund manager reksadana yang horizonnya long-term dan pasif, mungkin ini satu-satunya MA yang penting bagi Anda. Anda akan average di posisi ini. Posisi MA200 sekarang (2010) berada di 2550, yang sudah tembus per hari ini, karena pasar benar-benar luar biasa. Dan kalau diperhatikan lagi posisinya double top dengan MA sebelum crash 2008. Ayo, cepat naik lagi sebelum investor ikut panik. Atau… kita bener2 pengen crash lagi nih? (tanpa head and shoulder? come on…)
Atau, kalau kita lihat dari sisi lain, kalau sudah tembus kembali ke atas MA200, kami akan spekulasi lagi, re-entry dengan support di MA200 (seperti tadi, moga-moga yang ini berhasil). Tapi sementara itu, mari kita lindungi modal kita baik-baik. Save it for another day!
Probing the market itu penting. Kesempatan paling besar, khususnya di Indonesia, karena sulit untuk melakukan short selling, adalah pada saat bottom. Jangan sampai ketinggalan. Hanya… hari ini ternyata bukan harinya.
Lho, koq katanya full cash di analisa mingguan, tapi kenapa ada rekomendasi BUY? Dua saham lagi. He he he…kami sedang setengah mengkontradiksi diri sendiri dengan menjadi swinger. Bukankah kalau mau maju, kita harus terus mencoba menembus comfort zone? Kalau kemarin-kemarin kita cari “uang besar” sekarang kita coba cari “receh”, yang kalau dikumpulkan banyak juga.








