Fund Manager. Jabatan mentereng, mengendalikan trilyunan rupiah (tapi uang orang lain), pakai jas mahal, dan bicara seperti orang penting (padahal nggak). Tapi, benarkah fund manager lebih baik dari Anda dan kami? Menurut kami, tidak tuh. Ternyata, sebenarnya Anda dan kami sebagai trader ritel mempunyai keunggulan (“edge“) tersendiri dibandingkan fund manager. Apa saja itu?
#5. Bebas Biaya Mahal
Fund manager harus menyewa sebuah kantor di bilangan Sudirman hanya untuk membuktikan bahwa dirinya itu “bonafit”, tidak peduli sudah berapa ratus milyar yang hilang di tangannya. Biaya penyewaan ruang sebesar 100 meter saja lebih dari 15 juta setiap bulannya. Ditambah dengan service charge, listrik, gaji resepsionis, office boy, dan supir (yang tentu saja akan di-charge kepada kliennya), mungkin mencapai lebih dari 30 juta, per bulan. Belum lagi beberapa TV layar lebar, sistem komputer mahal, dll. Dan dia belum menghasilkan apa-apa.
Nampang dulu.
Trader ritel bisa bekerja dari kamar tidurnya, asal sudah dilengkapi dengan komputer (atau laptop, atau netbook) dan internet. Biaya? Nol, karena rumah sudah milik sendiri. Seluruh keuntungan langsung masuk ke “cuan” tanpa embel-embel apapun. Kalaupun mau menyewa sesuatu, yah sewa yang bagus donk, contohnya, vila di Bali.
Trading sambil cuci mata
#4. Bebas Mengatur Waktu
Fund manager harus masuk kantor pada pukul 9 pagi, dan pulang pukul 8 malam, untuk membuat laporan kepada bos, nasabah, dan lainnya. Belum mengatur website, tenaga pemasaran, bawahannya, atasannya, manajer bank, dan juga (akhirnya), mengelola portfolio.
9-to-8 office drone
Trader ritel boleh bekerja sesuka hatinya. Beberapa sistem trading hanya membutuhkan kurang dari 10 menit setiap minggunya untuk memantau setelah pasar tutup, dan masih menguntungkan. Beberapa trader ritel sukses menghabiskan waktunya bersama keluarga, menonton bioskop, nongkrong bersama teman-teman, dan hal-hal menyenangkan lainnya, ketika fund manager berkutat dikantornya.
Yeah! (Trader ada di belakang-tengah)
#3. Bebas Mengejar Mimpi
Beberapa saham begitu hebatnya hingga bisa membuat keuntungan 1000% dalam beberapa bulan saja. Fund manager perlu berpikir 1000 kali untuk masuk ke saham ini, karena mereka perlu konsultasi dengan analis fundamental, bos, manajer bank, sesama fund manager, dan mungkin supir dan resepsionis. Saat mereka masuk, sudah di fase terakhir kenaikan.
Stick to the prospectus
Trader ritel bisa langsung mengejar saham ini ketika breakout dengan volume besar dengan sebagian kecil modalnya, dan melakukan laddering atau beli bertahap setiap kenaikan harga dengan koreksi kecil atau istilahnya average up. Terkadang insting bisa mewujudkan mimpi Anda. Bukankah ini indahnya main saham?
Yeah!
#2. Bebas Caci Maki
Fund manager bisa dicaci maki siapa saja (terutama nasabah dan bos) karena kesalahan pengelolaan portfolionya. Mungkin sudah bagian dari job description-nya untuk menerima caci maki dan harus dia tanda tangani saat jadi fund manager. Sudah tidak bisa bergerak bebas, terikat waktu, tidak bisa mengejar mimpi, kena caci maki lagi. Dan dia pasti akan kena ini karena alasan No. #1. di bawah.
Kasihanilah saya…
Trader ritel? Ah, santai aja. Duit duit gue…
#1. Bebas Keluar dari Pasar Kapan Saja
Satu hal yang mungkin tidak Anda ketahui saat masuk ke produk reksadana atau menitipkan dana Anda ke fund manager adalah fund manager harus tetap menginvestasikan sebagian besar (lebih dari 80%) dana Anda pada saat apapun, tidak peduli bagaimana keadaan pasar saat itu. Ini satu hal yang sangat bodoh dan menyalahi semua ilmu mencari uang dari pasar modal. Jika ini dilakukan terus menerus, maka uang Anda cuma akan disitu-situ saja dan hanya akan membayar fee percuma kepada fund manager, untuk meng-cover biaya kantornya, supirnya, resepsionisnya, mobilnya, kapalnya, dan istri mudanya (yang semuanya jarang dipakai). Dan tidak mungkin dia cuti waktu downtrend.
Kasihanilah saya…please…cukup!!!
Pasar modal mempunyai siklus. Dan tidak semua siklus menunjuk ke atas. Kadang uptrend kadang downtrend. Keunggulan paling besar trader ritel adalah bisa keluar dari pasar kapanpun dia mau. Maka Anda harus memanfaatkan betul keunggulan ini dan keluar saat downtrend. Tidak bisa ditawar. Keluar dan pergi liburan dengan uang hasil “jerih payah” Anda saat uptrend (padahal nggak susah).
Sudah banyak riset yang kami baca (beberapa di antaranya ada di buku Technical Analysis-nya Gerard Appel, penemu MACD, dan Invest Like A Shark oleh James Deporre), dimana return dari pasar modal dengan gaya fund manager yang terus stay di pasar (atau buy and hold) hanya akan menguntungkan jika horizon investasi Anda jangka sangat panjang (30 tahun), dan itupun tidak jauh dari deposito biasa, apalagi ditambah inflasi. Tapi jika Anda menghindar dari downtrend yang terkonfirmasi dan menyimpan modal Anda untuk siklus berikutnya, maka keuntungannya akan jauh lebih besar.
Technical Analysis, halaman 61, sistem Triple Momentum hanya sebagai contoh, contoh sistem yang lain (klik!).
Untung saja Anda (masih) mempunyai jalan keluar, yaitu redemption reksa dana Anda.
Tentu saja sebagai trader ritel, Anda wajib belajar saham, dan menguasai analisa teknikal, dan tidak mendengarkan acara pasar modal oleh analis sekuritas (yang bergantung fee) dan fund manager (yang mau uang Anda) di radio dan televisi yang suka nggak nyambung, autis, dan paling banter menggunakan kata-kata “bersayap” yang pada intinya adalah mengatakan “Jangan keluar dulu dari pasar karena bla bla bla…”
Keluar saja (100% cash), dan…
Bawa istri Anda yang cantik ke Bali selama sebulan
Dijamin, Anda akan lebih siap untuk masa bullish berikutnya.










ha ha ha….ini mata kuliah berat namun dibawakan penuh guyonan…(sebenarnya satire yang mencerahkan, ya, pak dosen…..)…..
tapi, omong-omong…masak sih istri muda “jarang dipakai” ???….wah, rugi diongkos donk…..!….wkkkk…!
salam sukses pak dosen…sampe ketemu liburan akhir tahun di bali…..(selama 3 bulan…soalnya dapet high gain dari pasar yg jeblok beberapa hari lalu…dan mungkin masih ada lagi…tapi, jangan bawa istri muda…duit bisa cepet kesedotttt……ha ha ha….)
isinya mencerahkan pak, saya sudah kadung masuk dibeberapa unit link yang invest di equity juga, mgkin kedepan ga bakal ambil yang ginian deh, mending trading harian, trims spiritnya
rasanya jadi percaya diri setelah pak Dosen memaparkan makalah nya, tranks pad Dosen
Analisa pak Dosen memang hebat dan cukup beralasan untuk sementara bersabar….
tapi saya masih belum jelas tentang petunjuk bapak mengenai, jangan masuk pasar dulu sebelum IHSG membentuk sebuah higher lows, yang efeknya adalah meng-cancel downtrend ini; apa sih yang dimaksud higher lows?
saya juga masih belum faham apa yang dimaksud dengan trailing stop loss? bagaimana cara menentukan nilai trailing stop loss?
Terima kasih banyak pak atas petunjuknya….
semoga senin ini naik, supaya bisa keluar pasar sepenuhnya…
thanks suhu..
nice post,..
U really have talent as blogger
Wahhh, saya jadi kecewa nih…hehehe, kenapa nggak dulu-dulunya baca artikel beginian dari p.dosen. makasih inspirasinya .. jadi tetap bikin semangat bagi trader ritel, biar bisa ikutan liburan kemana aja dari invest saham……
Thanks before.. tugasq akhrx dah slesai berkat ini.
hahaha… Jd senyum2 sendiri gue bacanya.. Tanks pak dosen atas pencerahannya.,padahal hampir aja gue masuk reksadana.. Setelah baca artikel di atas.,gue jd pingin belajar saham n jd trader ritel… Makasih banyak pak dosen..!!