Anda tidak sempat menghadiri investor gathering 22 Mei 2010 kemarin di Hotel Nikko? Miss the “free” lunch? Yah, ngapain, Sabtu koq masih mikiran pasar modal? Santai dulu agar pikiran jernih Seninnya. Nonton Kick Ass dan Robin Hood di bioskop bersama keluarga. Betul tidak?
Tidak ada yang Anda lewatkan sama sekali sebenarnya. Di sana diberikan tiga laporan yang suaranya sama: bullish! Tambah saham Anda! OK, IHSG pasti satu-dua hari karena technical rebound, dan moga-moga, bisa mengcancel downtrend, tentu saja… Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah investor kecil yang nggak tahu apa-apa akhirnya bingung. Belief is everything. Kalau Anda ditiup-tiup bullish, mana mau Anda jual saham Anda (padahal downtrend)?
Market Update
Dibawakan oleh Supandi, Direktur PT Bursa Efek Indonesia, atau orang yang paling berkepentingan untuk menaikkan kapitalisasi pasar karena bonusnya tergantung kepadanya. Dia juga mungkin orang yang mengharapkan kalau bisa semua investor itu buy and hold, dan trader di-ban saja dari BEI.
Tabel-tabelnya menarik, dan bisa jadi insight, seperti, ternyata ASII adalah biggest cap sekarang, bukan TLKM. ADRO lebih besar dari BUMI, dan seterusnya.
Cuma yang mungkin tidak dia highlight, waktu yang dibutuhkan BUMI untuk naik dari bawah ke 8000 (5 tahun), dan dari 8000 ke 500 lagi (5 bulan).
Download di sini. (Klik kanan-save as)
Indonesia di Tahun 2010
Seolah tidak cukup baca di koran, Fauzi Ichsan, Senior Economist Standard Chartered membahas krisis Yunani, dan kemungkinannya merambat tiga negara lagi sehingga akronim PIGS (Portugal, Irlandia, Greek, Spain) menjadi lengkap.
“Ketergantungan Indonesia kepada pasar modal dan perbankan terbatas”, katanya. Syukurlah. Berarti jika BEI terbakar, ekonomi Indonesia masih akan baik-baik saja. Tapi dia lupa kalau dia lagi ngomong ke investor. Bagi investor apalagi yang cari makan di BEI, pasar modal adalah segalanya. Good point here. Kalau pasar modal sudah tidak menguntungkan lagi, kita buang INDF di BEI, lalu buka toko Indomie aja rame-rame. Oh ya, karena pasti masih ada sisa, belikan sisanya USD, simpan di bawah kasur (ide dari YW).
Pendapat YW beralasan tentu saja, karena Rupiah sudah keterlaluan bertahannya (“anomali”) terhadap dolar, mungkin karena kupon bond pemerintah (Rp dan Dollar) yang tinggi. Dengan penjaga gawang yang galak pergi (Sri Mulyani), dan hot money cabut, tentu Rupiah tidak akan lama bertahan.
Download di sini. (Klik kanan-save as)
Prospek Investasi Pasar Modal Indonesia 2010
Dibawakan oleh Norico Gaman, Head of Research PT BNI Securities.
Grafik net sell asing cuma sampai Januari 2010. Coba kalau diteruskan, pasti berbeda analisanya. Juga koq nggak disebut-sebut padahal di tabel ada PER YTD 2010 adalah 29.2. Kalau target 20 aja, berarti bisa ada koreksi lumayan. Target pesimis di 2800? Mungkin dia tidak mengerti arti kata “pesimis”…
Download di sini. (Klik kanan-save as)
Kesimpulan
BEI perlu lebih sering mengadakan gathering agar lebih banyak orang dicuci otak agar membeli saham lebih banyak lagi dengan alasan “long term investment”. Dengan begitu IHSG bisa naik terus. Eh?
Lindungi modal Anda baik-baik.




hehehe.. nice review pak..
ha ha ha….ini artinya kita harus borong saham-2 b7 ya…biar cepet bangkrut…..!
ulasan yang menggelitik, namun gak meninggalkan esensinya….kita lebih percaya anda ketimbang orang-2 di bei….yang mikirnya cuan untuk mereka sendiri….!
gawat…gawat…..!…cabut dulu, eh….dah “cabut” kok dari bursa….!…wkkkk….
hari yang menyesakkan,
hari ini memutuskan keluar semua dari bursa…
hiks,
walaupun milih saham benar ADRO dan SGRO,
namun apa dikata harus berani mengungkapkan kata putus, kita tunggu waktu yang tepat untuk nyambung…
hiks…hiks….berat memang berat dan menyakitkan..
suhu,
ada sarankah buat ngademin ati..?
Semua loss Anda akan kembali 10x lipat ketika bullish, asal Anda jangan sampai kehabisan semangat dan modal dan terus mengasah ilmu. DIJAMIN!
but but cabut,b7 jadi b ncong
Terima kasih sudah mau berbagi hasil gathering yang diadakan oleh den BEI. Data-data dan informasi yang ada cukup buat bekal betapa enaknya investasi di pasar modal di Indonesia. Bravo !