Skip to content

Pengaruh Kurs Rupiah Terhadap Saham

September 17th, 2011

Dosen Saham

SAAT pasar modal dunia menemukan support, baik Amerika (Dow) maupun regional, termasuk IHSG yang sudah tertahan di kisaran 3700, muncul isu baru, ini:

Dalam dua minggu terakhir sejak lebaran, terjadi depresiasi nilai Rupiah terhadap Dollar Amerika, dari 8582 ke 8856, atau dollar naik 3,2%.  Sebagian investor, terutama yang mencoba berpikir seperti investor asing berlogika:  penurunan nilai rupiah akan membuat nilai saham di BEI dalam kurs mata uang di negara asalnya juga menurun.  Misalnya, jika sebelumnya dalam kurs 8500, harga ASII di 85000, adalah US$10, dengan kurs 10000, harga ASII di 85000, cuma US$8,5.  Hal ini membuka kekhawatiran baru bahwa investor asing akan keluar dari BEI.  Kepemilikan asing di BEI mencapai hampir 60%, melebihi kepemilikan investor lokal yang cuma 40%, jadi hal ini mungkin akan memicu capital outflow.  Apalagi memang terlihat setiap hari net sell asing terus terjadi.

Yang kedua, dalam suatu negara yang ketergantungan impornya tinggi, penurunan nilai kurs bisa jadi membuka kekhawatiran mengenai inflasi.  Bahan baku impor membuat produsen harus menaikkan harga jual produknya, yang pada akhirnya berujung kenaikan harga barang, inflasi.

Ya, tentu dengan logika di atas, hal ini investor khawatir.

Now… on the flip side...  Saya akan berargumen bahwa depresiasi rupiah dan kurs bisa jadi korelasinya terbalik.  Hipotesa saya yang akan diuji pada beberapa minggu ke depan adalah kurs rupiah naik karena IHSG turun.  Jadi pasar modal sebagai lead dan kurs menjadi follower.

Dari bulan Agustus 2011, IHSG terus menerus mengalami koreksi, dengan angka net sell asing cukup besar.  Hal ini membuat capital outflow, uang asing terbang pulang ke negara asalnya.  US$ dicari sehingga harganya naik, otomatis Rupiah menjadi turun.  Sekarang jika IHSG kembali naik, maka Rupiah akan menjadi stabil.

Jika ditilik dari sisi valuasi, coba pikirkan, siapa yang paling untung jika harga dollar naik?  Jawabannya exportir.  Pendapatannya jika dihitung dalam USD, maka pendapatan dalam rupiah menjadi lebih tinggi.  Walaupun dicatat sebagai laba kurs, tetap saja bottom line merupakan keuntungan.  Sebagai eksportir sumber daya alam, apresiasi dollar akan membuat keuntungan emiten eksportir makin kinclong.  Karena harga saham digerakkan ekspektasi atau harapan investor, maka hal tersebut akan menghilangkan satu sama lainnya.  Di satu pihak, akan ada apresiasi pendapatan, walaupun ada penurunan nilainya.  Dari return IHSG yang cukup besar, dibanding dengan depresiasi rupiah yang dianggap country risk, maka secara valuasi dalam mata uang sana, walaupun tingkat diskonto naik, proyeksi pendapatan juga naik.  Hasilnya… kurang lebih sama.  Jika fundamental dalam negeri masih baik, investor akan datang kembali.

Kekhawatiran kedua mengenai inflasi.  Dari data Kemendag, Indonesia adalah negara net eksportir.  Pada emiten dengan bahan baku yang kebanyakan dari dalam negeri tidak akan terpengaruh dengan kenaikan kurs dollar.  Kemudian pikirkan juga consumer goods macam emiten penjual mie instan.  Dengan bahan baku dari Indonesia dan dijual di Indonesia, apakah ada pengaruh kenaikan kurs, jika tidak terjadi inflasi.

TERAKHIR, perhitungan risk and rewards.  Sementara ini, IHSG masih bermain di atas MA52 mingguan (rata-rata satu tahunan), sehingga jangka panjang masih uptrend.

Beberapa literatur mengenai pengaruh exchange rate terhadap pergerakan harga saham menunjukkan korelasi kurang dari 1:1.  Artinya, penurunan nilai exchange rate sebesar 1% berpengaruh kurang dari 1% terhadap harga saham.  Worst case scenario, jika kita mengambil asumsi nilai kurs Rupiah di 9500, terdapat kurang lebih 7% risk.  Dengan risk 1:1, maka penurunan IHSG yang diharapkan tidak lebih rendah dari 3534.    Atau jika diambil Dengan target akhir tahun 4200 dan bottom dari hammer mingguan di 3590, maka Reward to Risk Ratio masih lebih dari dua.

Saya simpulkan, dengan kondisi saat ini, IHSG terlihat masih akan bergerak naik sampai akhir tahun 2011, dengan kesempatan untuk trading cukup baik.

Cuma memang, jika masih terjadi koreksi, akan terjadi rally yang besar jika harga sudah bottoming karena kombinasi faktor-faktor di atas… itu untuk cerita lain kali saja ya.

Catatan penting lainnya adalah minggu depan tema Eropa, penyelamatan Yunani dan keutuhan mata uang Euro masih akan mendominasi berita ekonomi dunia, karena bisa saja berpengaruh pada prospek pasar modal Indonesia.  Ingat, net eksportir akan bermasalah jika negera tujuan ekspor mengalami masalah.  Jika permintaan ekspor menurun maka tetap akan mempengaruhi bottom line emiten.

2 Comments

Post a comment
  1. alex.calonMBA #
    October 19, 2011

    Sebagian investor, terutama yang mencoba berpikir seperti investor asing berlogika: penurunan nilai rupiah akan membuat nilai saham di BEI dalam kurs mata uang di negara asalnya juga menurun. Misalnya, jika sebelumnya dalam kurs 8500, harga ASII di 85000, adalah US$10, dengan kurs 10000, harga ASII di 85000, cuma US$8,5. Hal ini membuka kekhawatiran baru bahwa investor asing akan keluar dari BEI. Kepemilikan asing di BEI mencapai hampir 60%, melebihi kepemilikan investor lokal yang cuma 40%, jadi hal ini mungkin akan memicu capital outflow

    adakah teori yang menyatakan logika bapak diatas karena saya juga berlogika demikian untuk tesis saya namun saya tidak menemukan teori yang cocok… mohon bantuanya

    • Dosen Saham
      October 19, 2011

      ada Alex. tapi kamu perlu menganalisa data dengan variabel data kurs mengekor pergerakan IHSG, bukan sebaliknya. petunjuk: coba studi banding ke bursa Turki, US, dan UK.

Leave a Reply