Skip to content

SDSB ala Bursa Efek

March 8th, 2013

Dosen Saham

sdsb

Masih ingat dulu di Indonesia, ada kupon-kupon yang namanya SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah).  Harga per kuponnya Rp5000 dengan hadiah Rp1 Milyar.  Jadi, semua orang Indonesia bisa main “Who Wants To Be A Millionaire” dengan 5000 perak.  Eh, tunggu dulu.  Rp5000 perak itu besar lho waktu itu, karena bisa beli 25 mangkok bakso di lagu “Abang Tukang Baso”-nya Melissa.

Sekarang, saya masih melihat ada beberapa investor yang mindset-nya hampir sama.  Beli saham seperti kupon tersebut.  Jadi, beli dan dibiarkan sampai untung/rugi besar.  Apakah ini masuk akal?  Ayo kita pikirkan sama-sama.

Misalkan ada yang mengusulkan untuk beli 100 saham penny stock dan ditunggu sepuluh tahun.  99 ternyata rugi dan nyangkut di harga Rp50 dan tidak bisa dijual lagi!  Satu naik 4500% seperti LPCK.  Berarti setelah sepuluh tahun, uang Rp10 juta menjadi Rp4,5jt ditambah 99 saham nyangkut.

Mungkin kamu tidak se-ekstrim itu, tapi jumlahnya bisa saja cuma 20-30 saham, tapi campur-campur dan konsepnya seperti “Supermarket Saham”, dimana semua saham gorengan ada di situ.  Wkwkwkwk.

Bandingkan dengan reksadana yang mulai dari Rp1000.  Karena manajer investasinya profesional, dia sudah menghitung dulu fundamental perusahaan, sehingga dalam kurun waktu yang sama Rp1000 bisa menjadi Rp50.000 atau lebih, dengan kata lain Rp10 juta bisa menjadi Rp500 juta.  Memang belum Rp1 milyar sih, tapi kalau strateginya DCA (Dollar Cost Averaging), malah mungkin dengan “cuma” menyisihkan Rp600 ribu per bulan (Rp20.000 per hari/4 kupon SDSB), tapi dengan konsisten, bisa jadi hasilnya sudah lebih dari Rp 1 Milyar.

Ada yang tertarik mencobanya?

 

No comments yet

Leave a Reply