Skip to content

The Signal and The Noise

March 10th, 2013

Dosen Saham

DP182

Di dalam trading (terutama di dalam trading), tindakan beli/jual saham kita sangat bergantung pada sinyal yang ditunjukkan oleh chart kepada kita.  Sedangkan di pasar (selayaknya dalam pasar), banyak sekali “noise” atau keributan, yang kalau saya daftarkan terdiri dari satu atau lain hal berikut ini:

  1. Stock pick di facebook, twitter, blog, miliis.
  2. “Marketing Campaign” di running trade.
  3. Chatroom.
  4. Berita di koran, website, CNBC.
  5. Bisikan teman, broker.
  6. False breakout, false breakdown.

Mungkin ada yang lain, silakan ditambahkan saja sendiri.  Tapi intinya, banyak sekali gangguan/keributan di pasar modal.  Kalau di Zen, ada ungkapan: “Cobalah bersemedi di dalam pasar.”  Sama saja: cobalah berpikir rasional di dalam pasar.

Jangan dicoba.  Tidak akan bisa.

Selama lebih dari sepuluh tahun saya memperhatikan pasar, dan orang-orang yang berkecimpung di dalamnya.  Orang-orang yang paling untung adalah orang-orang yang “memanfaatkan” pasar, dan bukan bergabung dengan kegilaan di dalamnya.  Mereka bisa membedakan sinyal dan noise.  Noise tidak bisa mematahkan sinyal dan mereka akan berpegang teguh pada stockpick yang mereka buat sendiri, atau berasal dari sumber yang sangat terpercaya, atau walaupun mereka “tercebur”, mereka tidak terhanyut, karena sudah belajar cara berenang dengan baik, sampai bisa membedakan sinyal itu sendiri.

Apa saja sinyal itu?  Bisa jadi salah satu dari hal-hal berikut ini:

  1. Nilai wajar (Fair Value) dari saham tersebut.  Buy undervalued stocks.
  2. Trend.
  3. Breakout (resistance, Bollinger Band, Flag, etc).
  4. Support dan resistance.
  5. Volume dan net buy asing.
  6. Volatilitas.

Masih banyak lagi yang lain.  Setiap orang mungkin bisa melihat hal yang berbeda.  Tapi karena pasar demokratis, selama dia bisa profit from the market, bagi saya itu adalah hal yang sah-sah saja.  Sekarang, bagaimana cara membedakan sinyal dan noise tersebut?  Latihan, latihan, latihan.  Kamu tidak akan bisa menyetir di jalan raya kalau tidak diajarkan artinya lampu hijau-kuning-merah dan rambu-rambu lalu lintas.  Kembali ke Zen, kamu tidak akan bisa bermeditasi kalau tidak ada yang mengajarkan terlebih dahulu.

Trader yang baik tidak pernah berhenti belajar.  Pengalaman adalah guru paling mahal.  Orang pintar bisa belajar dari pengalaman orang lain.

(Bergabunglah dengan komunitas trading – email ke join@pojoksaham.com)

One Comment

Post a comment
  1. nurudin
    nurudin #
    May 18, 2013

    Salam kenal pak dosenengan. Kami sudah kangen dengan artikel terbaru dari bapak. terima kasih.

Leave a Reply