Skip to content

Trading for A Living

June 1st, 2013

Kokolato

Ketika orang mendengar kata trading for a living, banyak yang langsung mengasumsikan bahwa pasti dia adalah seorang full time trader, tidak punya pekerjaan lain selain trading. Saat ini menurut pengamatan saya memang terdapat kerancuan pengertian antara trading for a living dengan full time trader, meski secara kata per kata sebenarnya pengertiannya sudah berbeda.

Apa sebenarnya Trading For A Living?

Saya pribadi selalu mengartikan bahwa trading for a living bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan kita sekarang, bukan berarti bahwa kita harus menjadi full time trader. Bagi saya, dengan bahasa Inggris yang seadanya mengartikan bahwa trading for a living adalah ketika kita memperlakukan trading kita secara serius sehingga hasil trading kita mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, bahwa kita serius berusaha untuk membuat uang yang kita investasikan di trading mampu bekerja sendiri buat kita tanpa harus kita awasi detik demi detik dan tanpa harus kita meninggalkan apapun pekerjaan kita saat ini.

Memang, Alexander Elder dalam bukunya Trading for A living menyebutkan bahwa trading – you can be free. You can live and work anywhere in the world. You can be independent from routine and not answer to anybody. This is the life of successful trader. Di sisi lain Alexander Elder juga menegaskan bahwa you can succeed in trading only if you handle it as serious intellectual pursuit. Emotional trading is lethal. To help ensure success, practice defensive money management. A good trader watches his capital as carefully as a professional scuba diver watches his air supply.

Dari pernyataan Alexander Elder memang menyiratkan bahwa trading for a living itu menjadi seorang full time trader yang bebas bekerja darimana saja dan bebas dari rutinitas serta dari perintah siapapun, tapi ya balik lagi, menurut saya trading for a living itu tidak harus menjadi seorang full time trader, tidak harus berhenti bekerja, yang terpenting adalah bagaimana memperlakukan trading kita secara serius sehingga mampu membuat uang yang kita investasikan bekerja sendiri dan mampu untuk memenuhi kebutuhan kita.

Sama halnya ketika kita membangun bisnis, masa-masa awal mungkin masih memerlukan campur tangan kita dalam bisnis tersebut, masih harus kita monitor day by day, masih harus kita yang mengurusi detailnya. Tapi seiring dengan pertumbuhan bisnis kita, akan tiba saatnya bisnis tersebut berjalan tanpa campur tangan kita, tanpa harus kita monitor day by day, kita hanya tinggal melihat laporan saja, sambil melakukan apapun aktifitas yang kita senangi, jalan-jalan keliling dunia atau sekedar menjalankan hobi kita. Bisnis jalan, profit lancar, kita senang-senang…

Trading pun bisa seperti itu asalkan kita memperlakukan trading juga sebagai bisnis yang serius. Masa-masa awal mungkin masih harus memerlukan campur tangan kita, kita belajar menganalisa, belajar mengatur modal, belajar memahami pasar, belajar menemukan karakter trading yang cocok dengan kita serta sistem trading yang mampu mendukung karakter trading kita tersebut. Suatu saat, ketika kita sudah menemukan karakter trading yang cocok dengan diri kita sendiri, sudah menemukan system trading yang mendukung karakter tersebut, trading bisa jadi tidak harus kita monitor detik demi detik, tidak harus kita pantengi running trade dari opening sampai closing, tidak harus “terjebak” dalam rutinitas trading. Trading kita saat itu sudah menjadi trading auto pilot, trading sudah jalan dengan sendirinya dan kita pun bebas melakukan apa saja yang kita mau, jalan-jalan bersama keluarga, ngumpul bareng teman-teman atau bahkan bekerja sebagai seorang karyawan. Itu semua adalah pilihan kita, menjadi full time trader yang trading for a living, atau menjadi karyawan atau pekerja atau pebisnis real tapi juga punya bisnis trading for a living.

Apapun itu, yang jelas, kedua pilihan tersebut bukanlah hal yang mustahil asalkan dari awal kita memperlakukan trading kita sebagai sebuah bisnis yang serius. Dan layaknya sebuah bisnis, maka kita harus mempelajari segala hal yang berkaitan dengan bisnis tersebut agar bisnis kita sukses, stabil dan memberikan performansi yang cetar membahana.

Bagaimana agar performance trading kita cetar membahana?

Lalu, bagaimana agar performance trading kita cetar membahana?? Mau gak mau memang 3 hal utama mengenai trading yang disampaikan oleh Alexander Elder yakni Mind, Method, dan Money Management harus bisa kita penuhi bahkan kita kuasai betul. Itu semua adalah prasyarat yang harus dipenuhi agar hasil trading kita mampu memenuhi kebutuhan hidup. Dan perlu diingat, bahwa semua itu butuh proses, bahwa untuk menguasai ketiga hal tersebut banyak hal yang harus kita lakukan, banyak hal yang perlu kita korbankan baik dari sisi biaya maupun waktu. Kata orang, lebih baik mandi keringat saat latihan daripada mandi darah saat pertandingan, atau kalo orang bule bilang More sweat on the training field, less blood on the battlefield. Bahwa butuh latihan terus menerus, butuh semangat tidak kenal lelah, butuh motivasi yang tinggi agar kita mau terus belajar dan berusaha memahami market sehingga kita suatu saat akan jadi trader yang mumpuni dengan performansi trading yang cetar membahana. Tulisan saya mengenai trading is a journey of self discovery mungkin bisa memberikan pemahaman yang lebih baik.

Pertanyaan selanjutnya adalah, jika memang performansi trading kita sudah cetar membahana, sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup kita, lalu mengapa kita masih bekerja, masih menjadi karyawan, masih tunduk pada aturan kantor, masih dimarahi boss yang mungkin gajinya masih lebih rendah daripada pendapatan trading kita?? Sekali lagi saya tegaskan, bahwa trading for a living adalah sebuah pilihan, apakah kita trading for a living dengan menjadi full time trader dan menjadikan trading sebagai satu-satunya aktifitas dan sumber penghasilan kita atau kita memilih alternatif lain bahwa kita trading for a living dengan tetap menjalani apapun aktifitas yang menjadi kesibukan kita selama ini. Well, balik lagi kepada pilihan masing-masing. Ada sebagian orang ada yang sudah begitu percaya dengan kemampuan tradingnya dan melihat trading sebagai sebuah pekerjaan yang sangat menjanjikan, sesuai dengan passion-nya lalu memutuskan trading for a living dengan menjadi full time trader, tetapi sebagian yang lain ada yang belum terlalu percaya diri dengan kemampuan tradingnya sehingga masih membutuhkan sumber pendapatan lain meski saat ini performance tradingnya sudah lebih dari cukup. Ada juga yang terpaksa harus bekerja demi status sosial, menjaga perasaan bapak ibunya atau bahkan mertua dan lingkungan keluarganya, karena memang harus diakui, kultur masyarakat Indonesia yang sebagian besar belum mengenal trading dan investasi, masih memandang trading atau investasi bukan merupakan sebuah profesi ataupun pekerjaan yang menjanjikan dan bisa dibanggakan, terlebih stigma sebagian masyarakat kita yang menganggap trading identik dengan judi. Orang tua atau Mertua mana yang mau anak atau menantunya dikenal sebagai penjudi eh trader #curcol

Bagaimana cara Trading For A Living sambil bekerja?

Trading for a living dengan menjadi full time trader mah jelas, kerjaannya trading doang, full monitor market, nah trading for a living dengan tetap menjadi karyawan emang gimana caranya ?? ada beberapa pilihan si kalo kita tetep mau trading sekaligus tetap menjadi karyawan, kerja kantoran. Yang pertama, dan kemungkinan paling banyak dilakukan orang adalah dengan memilih trading berdasarkan fundamental atau dengan kata lain investasi. Beli saham untuk disimpan selama fundamental perusahaan masih bagus dan performansi bisnis perusahaan terus tumbuh, apalagi jika pilihan sahamnya adalah perusahaan dengan track record yang rajin memberikan deviden, capital gain dapet, bonus deviden juga dapet. Beli, tinggal tidur, dan bekerja seperti biasa. Pilihan kedua, memilih gaya trading dengan model swing trading, trading berdasarkan pendekatan analisis teknikal dengan time frame yang lebih lama, saham disimpan selama tidak ada perubahan trend atau belum memenuhi kriteria penjualan kita. Tidak perlu dimonitor tiap saat, cukup dimonitor setiap akhir hari, sepulang kita kerja atau setelah market tutup. Yang ketiga, trading secukupnya tiap hari. Maksud saya adalah bahwa trading itu bukanlah full day activity, bahwa trading itu seringkali cukup setengah jam, satu jam atau bahkan cukup lima menit dalam satu hari. Lho kok bisa?? Ya bisa saja, kenapa enggak, asal cuannya sudah cukup, target harian sudah terpenuhi kan gak perlu trading lagi. Masalahnya adalah, kita punya gak target harian, dan definisi cuan yang cukup bagi kita itu seperti apa??  Untuk menentukan target harian dalam nominal rupiah si perlu juga mempertimbangkan total modal yang kita punyai. Misal modal 100 juta, saya rasa cukup masuk akal jika kita menargetkan profit harian 1 juta, sebulan sudah 20 juta, mayan kan. Bisa kah? Sangat bisa, modal 100 juta untuk dapat profit 1 juta itu kita hanya perlu cari saham yang naik minimal 1 persen kalau kita masuk full power di satu saham, tektok 1-2 point di saham fraksi 5 atau fraksi 10 pun sudah cukup…tapi balik lagi syarat 3M, mind, money, dan method harus sudah kita kuasai. Alternative keempat, pake mechanical trading. Saat ini sudah banyak online trading yang menyediakan fitur automatic trading dengan syarat buy dan sell yang kita tentukan sendiri, yang perlu kita lakukan hanyalah menganalisa saham apa yang akan kita beli, bikin trading plan, rule buy nya seperti apa, entry di berapa, exit di berapa, stop loss di berapa. Setelah semuanya ada, tinggal kita masukkan parameter-parameter tersebut ke dalam online trading kita. Kalau sudah, biarkan sistem online trading yang bekerja untuk kita dan kita bisa kerja as usual, menjadi karyawan yang baik di kantor.  :)   Alternative terakhir atau alternative kelima untuk menjalani trading for a living dan tetap menjadi karyawan, kombinasikan semua pilihan yang sudah dijelaskan di atas…hehehehe.

Apapun pilihan anda, pertimbangkan masak-masak sebelum anda memutuskan akan menjadi seperti apa.  Apalagi jika Anda sudah mempunyai tanggungan keluarga, jangan egois untuk serta merta menjadi full time trader hanya karena melihat kesuksesan teman yang menjadi full time trader. Kalau kita belum terlalu percaya diri dengan kemampuan trading kita, belum stabil performansi trading kita yang jangan menjadi full time trader dulu, kalo nyangkut dan rugi, anak dan istri mau dikasih makan apa? Hehehe. Tapi kalo kita sudah sangat percaya dengan kemampuan trading kita, performansi return trading kita sudah stabil dan terus meningkat, punya orang tua yang rela anaknya menjadi trader, punya mertua yang ikhlas menantunya adalah seorang trader yang bahkan tidak bisa dicantumkan sebagai pekerjaan di kolom isian KTP apalagi mengajukan KPR ke Bank, boleh lah kita mempertimbangkan trading for a living dengan menjadi full time trader dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk anak dan istri.

Yang jelas, trading for a living adalah sebuah pilihan, maka pilihlah dengan bijak..

Salto mas bro.

Comments are closed.