Support IHSG di 3900 mampu bertahan sehingga pola double top (6 Feb) menjadi batal. Saat ini corrective wave (2) belum terlihat ujungnya, tapi preferred menjadi wave flat sehingga pasar sideways antara 3900 sampai 4040. Wave flat ini bisa cuma berlangsung sekali, langsung mulai wave (3), atau bisa lebih dari sekali, artinya bolak-balik di kisaran 3900-4040. Konfirmasi baru bisa terlihat di atas 4040.
Selamat trading!
Sekarang kita bicara tentang keuntungan. Setelah kamu berhasil menaikkan stop ke level impas, maka sebenarnya risk kamu sudah berkurang sangat banyak sehingga menjadi hampir nol.
Kamu bisa menentukan trailing stop secara subjektif atau objektif. Paling sederhana adalah jika kamu menentukannya secara subjektif, misalnya jika pasar melawan sebesar 3% atau lebih dari top, saya akan jual. Tapi pasar sebenarnya tidak peduli dengan pemikiran kamu itu, jadi yang saya gunakan biasanya adalah cara objektif, dan bahkan seringkali sudah di-adjust secara volatilitas (he he…). Tentu kamu tidak berpikir trailing stop untuk UNVR dan PNLF sama bukan?
Namun sekali lagi, keberhasilan hal ini akan tergantung sekali dengan kondisi market pada saat tertentu dan success rate dari penentuan trend saham yang kamu pilih. Semakin ahli kamu menganalisa trend (dan lamanya trend itu AKAN berlangsung), semakin baik hasil dari strategi ini.
Trailing stop yang objektif ada beberapa macam:
- Last Low
- Trendline
- Moving Average
- Support
- Pattern
- Parabolic SAR
- Chandelier Stop
- Volality-adjusted
Makin ke bawah makin rumit. Saya akan jelaskan satu-satu, dimulai dengan yang paling sederhana (tapi masih efektif).
Last Low
Jesse Livermore pernah bertemu dengan trader yang menggunakan trailing stop yang sangat sederhana ini dengan kesuksesan yang besar. Saya sendiri juga seringkali menggunakan metode sederhana ini jika beberapa kondisi sudah dipenuhi, misalnya profitnya sudah cukup besar, atau market sedang ada potensi reversal.
Aturannya sangat sederhana: naikkan trailing stop di level low dari pergerakan hari sebelumnya. Misalkan jika sebuah saham bergerak dibuka di 1750, membuat low di 1700, lalu ditutup di 1800, maka hari berikutnya kamu meletakkan trailing stop di 1700. Sederhana bukan? Aturan ini memastikan jika harga terus naik, maka kamu tidak akan keluar, dan juga trailing ini adalah trailing dengan resiko terkecil, karena resikonya cuma pergerakan satu hari.
Masalahnya, seperti semua stop yang ketat lainnya, dalam kondisi yang salah, trailing stop ini akan sangat rentan dengan whipsaw. Tapi, untuk belajar trailing stop, silakan coba di chart kamu, jika kamu bersedia mengambil resiko lebih satu hari pergerakan, berapa gain tambahan yang bisa kamu dapatkan?
Contoh aktual ada di Premium Newsletter 13 Februari 2012, dimana ASRI yang dijadikan Trailing di sana. Hari ini menurut aturan Last Low yang disebutkan disana, ASRI harus dijual karena sudah tembus level low sebelumnya di 580. Yang harus kamu perhatikan adalah betapa dekatnya trailing tersebut dengan resisten channel dan potensi profitnya sudah maksimal, seperti chart di bawah ini:
To be continued…
Di dalam setiap pasar selalu ada harga permintaan (bid) dan harga penawaran (offer). Beberapa buku menyebutkan suatu transaksi (trade) terjadi ketika pembeli yang paling serakah membeli (makan offer), atau penjual yang paling takut menjual (buang bid). Tapi di pasar sebenarnya, bisa saja bukan hal itu yang terjadi. Langkah pertama yang perlu dipikirkan adalah mempertimbangkan baik-baik untuk menggunakan market order jika masih masuk akal dibandingkan dengan limit order untuk membeli atau menjual saham, averaging, dan teknik bayangan.
Sebuah analisa bisa saja benar, tapi entry pointnya sudah bergerak naik. Bullish di sebuah saham, tapi tidak memiliki posisi sama saja tidak mengkapitalisasi analisa yang sudah kamu buat. Rencana trading adalah 50% dari permainan, tapi 50%-nya lagi adalah improvisasi dan perhitungan cepat reward to risk ratio di pasar yang sedang bergerak. Hal pertama untuk memaksimalkan cuan adalah untuk selalu bertindak. Maksud saya begini. Misalkan kamu menganalisa support sebuah saham Y di 1600, dimana hari sebelumnya sudah menyentuh harga tersebut, tapi hari kamu trading, harga sudah membuat fraktal, sehingga bid yang kamu pasang dari jam 9.50 di 1600 tidak kena (harga bottoming di 1610), sedangkan target kamu di 1900 (20%). Apa yang kamu lakukan?
Beberapa trader terus menunggu dan akhirnya tertinggal. Sebuah analisa harus ditindaklanjuti dengan sebuah trade, jadi pastikan saham Y tersebut ada di portofolio, bagaimanapun caranya. Ya, bahkan jika harganya sudah di 1700, tetap beli di market order pada jam 15.45 (dekat penutupan). Tapi tentu dengan perhitungan matang. Jika risk saya sebelumnya cuma 0,5% dari modal, saya tetap akan menjaga risk tidak terlalu jauh dari situ. Semakin tinggi saya harus membeli, semakin sedikit (secara relatif) jumlah posisi saya. Averaging posisi (baik beli maupun jual) akan memastikan bahwa sebuah analisa memiliki tindak lanjut. Langkah pertama adalah tetap menjadi kekuatan positif, yaitu bertindak searah dengan prediksi, beli ketika prediksi naik, jual ketika prediksi turun. Nanti akan kita bahas teknik bayangan yang bertindak sebaliknya yang akan berguna pada beberapa kasus.
Nah, sekarang saham yang sudah dibeli tersebut sudah naik 10%, misalkan ke level 1840, tapi belum mencapai target 1900 dan terlihat menemukan resisten baru di 1840. Apa yang kamu lakukan? Di sinilah kita mengenal trailing stop atau stop yang bergerak. Kamu tidak perlu langsung menjual jika analisa kamu masih mengatakan saham tersebut masih uptrend, tapi kamu harus menaikkan stoploss ke level break-even (impas) sehingga menjadi trailing stop yang pertama.
Aturan pertama untuk trailing stop adalah stop tersebut harus terus naik dan tidak boleh diturunkan, apapun alasannya. Misalkan, jika saham kamu beli di 1700, dan stoploss di 1590, setelah naik ke 1840, kamu boleh naikkan ke 1700, sehingga paling buruk, kamu cuma rugi fee atau breakeven. Dan apapun alasannya, kamu tidak boleh menurunkan stop kamu lagi, walaupun ke 1650. Sekali stop itu naik, maka harus tetap berada di sana, atau naik (trailing).
Nah, jika kamu sudah menaikkan level stop kamu ke breakeven, kamu memiliki kebebasan yang besar untuk mengelola posisi kamu. Hal yang paling penting diperhatikan tetap reward to risk ratio. Kamu harus menghitung harga saham kamu dalam average pembelian, bukan LIFO (Last In First Out) seperti yang saya lihat di banyak trader pemula. Pokoknya harus average. Titik.
Reward to risk ratio dihitung dari average tersebut. Begitu juga untuk memaksimalkan posisi dan jual sebagian posisi untung (profit taking), harus dihitung ke average.
Harga saham bisa terus naik sampai tidak terbatas, bahkan dua tiga kali lipat harga pembelian awalnya. Tidak apa-apa. Selama kamu bisa terus menaikkan level trailing stop ke level yang sesuai, kamu bisa dibilang sudah mengelola saham tersebut dengan baik. Saya selalu menaikkan stop ke breakeven paling lambat ketika harga sudah bergerak searah dengan analisa saya setidaknya separuh dari target.
Kesalahan awal adalah menaikkan stoploss tersebut terlalu awal sehingga kena whipsaw. Hal ini bisa dihindari dengan bersabar hingga harga naik searah dengan analisa kita setidaknya setengah dari target.
Di bagian selanjutnya kita akan bicara beberapa jenis trailing stop yang bukan hanya akan breakeven tapi sudah menghasilkan keuntungan. Tapi sebelum saya masuk ke sana, aturan di bagian ini harus diingat terlebih dahulu:
- Selalu tindak lanjuti sebuah analisa dengan trade. Satu-satunya cara menguji analisa adalah dengan melakukan trade.
- Posisi untung (setidaknya setengah dari target awal), tidak boleh berbalik menjadi rugi, naikkan trailing menjadi breakeven.
- Stop hanya boleh bergerak searah dengan analisa, dan tidak boleh diturunkan lagi setelah dinaikkan.
To be continued...
Seri artikel ini adalah tentang bagaimana memaksimalkan keuntungan yang sudah didapat. Trader yang ingin mendapatkan keuntungan maksimal dari pasar modal bukan hanya perlu mengetahui saham mana yang akan naik harganya, tapi juga memaksimalkan keuntungan dari posisinya yang benar. Seringkali, seorang trader memiliki banyak atau beberapa posisi yang untung, tapi di samping itu, dia juga memiliki banyak posisi yang rugi atau tidak bergerak atau harganya tetap di kisaran yang sempit. Oleh karena itu, ketika posisi suatu saham sudah untung, dengan segera dia menjual saham yang untung tersebut dengan harapan merealisasikan paper profit menjadi profit atau keuntungan. Sementara, untuk saham yang menunjukkan paper loss (unrealized), dia biarkan. Hasilnya? Nyangkut, dan equity terus menurun.
Sebenarnya saya sudah berkali-kali mengingatkan bahwa walaupun pahit, stop loss adalah teman terbaik trader, karena trader bukan investor! Untung atau rugi itu hal biasa dalam bisnis, tapi kalau sampai modal tergerus habis, jadi runyam. Jadi, saya tidak akan membahas hal itu lagi di sini.
Prinsip trading yang saya pegang adalah cut losses short, let profits run. Sekarang saya akan membahas bagian kalimat yang kedua, yaitu bagaimana let profits run, atau memaksimalkan cuan yang kamu bisa dapatkan dari suatu saham.
Banyak tips atau panduan singkat tentang bagaimana cara menangani sebuah posisi ketika sudah mencapai target yang ditentukan, dan beberapa cukup valid, namun dalam artikel ini saya akan mencoba untuk menggali satu tingkat lebih dalam, dan menggabungkan antara literatur dan pengalaman dan memberikan filosofi untuk memaksimalkan keuntungan di saham.
Dari beberapa karakter pasar modal yang saya ketahui, ada satu hal yang menjadi sorotan saya: pasar modal bergerak sesuai trend, dan akan menyentuh rata-rata atau harga wajarnya (fundamental), namun seringkali deviasinya bisa sangat jauh seperti dihubungkan karet gelang yang sangat panjang dan elastis. Pasar modal rentan dengan bubble dan depression. Pada saat pasar sedang mania, maka harga bisa melambung sangat tinggi. Begitu pula, jika pasar sedang depresi, harga bisa jatuh hingga titik yang sangat rendah.
Hal yang paling mudah dikatakan oleh orang awam dalam pasar modal melihat gerakan pasar modal adalah “Buy low, sell high.” John Bollinger mengatakan bahwa low dan high itu relatif. Pengalaman saya juga, sebenarnya taktik buy low dan sell high cuma bisa menguntungkan kalau pasarnya sideways, atau saya betulkan sedikit, buy support, sell resistance. Taktik tersebut bisa saja dilakukan, tapi di pasar trending, taktik tersebut potensi keuntungannya tidak besar. Receh kalau dikumpulkan hasilnya akan besar juga, tapi bukan cara swing ini yang ingin saya bahas sekarang.
Investor saham UNVR sudah melihat unrealized profit lebih dari 2000% (20 kali lipat) dari tahun 2001. Puaskah kamu dengan profit 2%-5% saja, jika profit 20% atau lebih bisa didapatkan dengan sedikit perubahan persepsi? Tergantung pada cara trading masing-masing orang, bisa saja taktik yang saya sampaikan di sini pada awalnya malah memberikan kerugian jika belum terbiasa. Kamu mungkin berpikir: memilih saham yang benar saja sudah cukup sulit, sekarang Bapak bilang, saya tidak boleh segera merealisasikan profit saya??? Bukankah nanti keuntungan saya malah jadi kecil.
Sebaliknya, dengan taktik yang benar, sebenarnya kamu cuma akan rugi dua hal: fee, dan selisih swing yang 2%-5% itu, tapi kamu akan mendapatkan 20%-nya jika saham pilihan kamu benar. Cuma ada satu musuh bebuyutan teknik yang saya sampaikan ini, akan saya sampaikan di bagian akhir nanti.
Teknik yang saya sampaikan ini sifatnya lebih kompleks dari penentuan profit target (PT) dan level stop loss (SL) dari rencana trading yang biasa. Misalnya, yang biasa dilakukan trader melihat sebuah formasi chart adalah beli saham X di 200 dengan target 220 dan stop loss 195, hasilnya reward to risk ratio = 4.
Saya bilang lebih kompleks, dan untuk mencernanya, kamu perlu menguasai terlebih dahulu konsep-konsep trading dasar, dan setidaknya punya pengalaman trading lebih dari satu tahun. Jika tidak, bisa jadi apa yang saya tulis menjadi tidak masuk akal (bagi kamu).
To be continued…
Saya beberapa waktu ini tidak update web maupun Twitter. Tampaknya yang mencoba menghubungi saya melalui email juga saya cuekin… Bukannya saya sombong, tapi bulan Desember ini saya memang sangat sibuk dengan “urusan lain”. Kira-kira setelah lewat tanggal 16 Desember, saya sudah “nyerah” mengharap adanya window dressing yang ternyata cuma terjadi di saham-saham konstruksi (PTPP, TOTL, WIKA). Sudah deh, saya pikir. Tahun ini memang bukan tahun yang baik untuk trading.
Kalau dipikir-pikir, memang banyak target saya yang tidak tercapai tahun ini di dunia trading. Mungkin karena saya sendiri kurang fokus.
Jesse Livermore pernah berkata bahwa trading adalah pekerjaan full time, dimana trader atau spekulator itu harus mengabdikan seluruh dirinya ke dalam pekerjaannya (trading). Sungguh benar sekali kata-kata tersebut.
Saya pikir saya sudah cukup berpengalaman untuk terbang dengan “auto pilot”, trading “sistem” tanpa terlalu mengindahkan “discretionary”. Well, saya salah. Frost dan Pretcher juga pernah menulis, ketika investor terbiasa dengan cara trading tertentu, waktu itulah market berubah. Kalau dimasukkan ke wave, wave 2 dan wave 4 akan berbeda bentuknya.
IHSG saat ini sendiri masih berada di posisi sideways dengan volume sangat rendah. Saya akan menunggu tembusnya resisten 3800 baru agresif. Sementara ini posisi saya masih cenderung defensif dan saya tidak berharap banyak.
Selamat Hari Natal bagi yang merayakan, dan Selamat Tahun Baru 2012.
Semoga tahun depan membawa berkah yang lebih besar bagi kita semua.
Sedikit pandangan Elliott Wave (skenario most probable saya saat ini). Target 3980, tercapai tanggal 12 Desember 2011.
For faster and more timely updates, follow me –> @pojoksaham
For faster and more timely updates, follow me –> @pojoksaham
Pada suatu hari ada dua orang biksu melihat sebuah bendera yang berkibar.
Biksu yang pertama bilang, “Bendera yang bergerak.”
Biksu yang kedua bilang, “Angin yang bergerak.”
Mereka berdebat lama mengenai hal ini, tapi sama-sama tidak setuju.
Huineng, Patriach keenam, datang dan berkata, “Tuan-tuan, bukan bendera maupun angin yang bergerak. Pikiranmulah yang bergerak.” Dan mereka berdua pun terpana.
Cerita Zen di atas adalah ilustrasi bagus mengenai apa yang terjadi di pasar modal sekarang ini, terutama perdebatan antara kubu-kubu ahli di bidangnya masing-masing. Saya ambil satu contoh, jika kaum fundamental dan teknikal berdebat.
Kaum fundamental berkata, “Kondisi keuangan perusahaan akan menyetir harga.” atau “Perusahaan (bendera) yang bergerak.”
Kaum teknikal berkata, “Pergerakan harga akan berada di depan pergerakan fundamental.” atau “Trend (angin) yang bergerak.”
Keduanya akan berdebat lama dan masing-masing akan menunjukkan argumen yang valid, dan bisa menyerang dasar teori masing-masing kubu yang berlawanan.
Kaum fundamental akan menyamakan kaum teknikal dengan astrologi. Tidak ada dasar scientific-nya! Jika kamu bisa percaya bahwa pergerakan bintang-bintang dan bulan (dan Libra akan mendapatkan keuntungan hari ini), kamu bisa percaya chart. (dan…ternyata ada lho yang menggabungkan teknikal dan astrologi…ternyata. *sigh*)
Kaum teknikal menganggap kaum fundamental sebagai “paralysis by analysis“. Terlalu banyak menganalisa sehingga aksinya selalu terlambat, atau bahkan tidak bisa bergerak sama sekali alias paralisis.
Kira-kira apa yang akan dikatakan Zen Master kepada mereka berdua ya?












