Skip to content

Posts from the ‘Artikel’ Category

7 Alasan Kenapa Kamu Harus Mulai Investasi Saham Dari Sekarang

July 16th, 2014

Bung Analis

Bayangkan: kamu tidak perlu bekerja, tidak perlu ikut rush hour orang kantoran, tidak perlu menghadap bos yang cerewet, tidak perlu menjilat, tidak perlu membuat usaha. Bahkan, kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Saham yang kamu miliki menghasilkan uang yang cukup untuk kamu hidup enak, santai, dan masih terus tumbuh. Saya yakin semua orang punya impian seperti itu. Robert Kiyosaki menyebutnya “financial freedom“.

Tapi, ada satu masalah: kamu tidak berasal dari keluarga super kaya, tapi seperti kebanyakan orang di Indonesia, kamu berasal dari kelas menengah dan menengah bawah. Kamu tidak punya modal bermilyar-milyar untuk membuat pabrik, dan pabrik-pabrik di Indonesia pun tutup kalah bersaing dengan Cina. Kamu tidak punya keahlian yang sangat tinggi untuk bersaing dengan ahli-ahli di Amerika atau Singapura. Kamu hanya orang biasa. Bisakah impian itu tercapai?

Jawabannya: Bisa. Tapi kamu harus mulai sedini mungkin. Kamu harus mulai sekarang. Kamu harus mulai investasi saham. Tidak ada di sejarah manusia ada instrumen investasi yang bisa dimiliki “orang biasa” yang bisa membawanya ke puncak kekayaan. Lihat Warren Buffett. Dia mulai dengan $100, tapi dia mulai dari awal. Ada 7 alasan kenapa investasi saham harus dimulai sedini mungkin. Apa saja? Ayo kita simak bersama.

Read more

Random Walk? Self-Fulfilling Prophecy?

March 3rd, 2012

Dosen Saham

Random Walk Theory dan Self-Fulfiling Prophecy adalah dua hal yang sering dijadikan kritikan pihak akademisi dan non-praktisi kepada analis teknikal atau trader atas tindakannya mencoba “memprediksi” pergerakan harga saham. Di sini saya ingin mencoba sharing pengetahuan saya tentang kedua masalah ini.

Random Walk Theory

Random Walk Theory, atau terjemahan bebasnya Teori Jalan Acak. Bayangkan orang mabuk (atau mikrolet atau bajaj di ibukota, kalau kamu inginkan). Kamu tidak akan bisa menebak dia akan berbelok ke kiri atau ke kanan, atau jalan lurus saja. Atau bahkan berhenti di tengah jalan.  Begitu juga orang lain. Tidak ada yang bisa.  Hanya supirnya dan Tuhan yang tahu.

 

Mikrolet Berbelok: Contoh Nyata Random Walk

Para penganut Random Walk Theory ini (biasanya akademisi) menganggap harga saham itu seperti mikrolet. Kamu tidak akan pernah bisa memperkirakan besok dia akan naik atau turun, dan semua usaha untuk menganalisa jalannya gerakan pasar modal dan harga saham itu percuma, atau tidak ada gunanya.

Dan bukan cuma dia saja, akademisi dan profesor (Ph.D.) seperti Nassim Nicholas Thaleb (penulis buku “The Black Swan” dan “Fooled by Randomness“) juga memiliki argumen tentang randomness atau keacakan. Tapi Thaleb adalah filsuf dengan pemikiran yang luas, sehingga walaupun dia mengkritisi randomness, sasarannya terutama adalah para penjual option. Saya yakin, sebagai trader, saya dan dia kalau ngobrol akan cocok (terutama tentang manajemen resiko).

Kalau menurut saya (dan analis teknikal yang baik tentu akan setuju), gerakan harga saham itu tidak acak. Bisa jadi para akademisi tersebut terlalu mengandalkan model-model komputernya. Mereka lupa, komputer yang paling canggih yang diciptakan oleh Tuhan tetap adalah otak manusia. Akademisi secara teoritis mencoba mensimulasi gerakan pasar modal, dan gagal menemukan suatu formula, suatu alat prediksi yang bisa memprediksi harga, dan menyatakan, “pasar modal merupakan random walk”.

Seorang anak berumur sepuluh tahun yang tidak pernah menyentuh piano, melihat Richard Clayderman memainkan Fur Elise. Tangannya terlihat menari-nari di atas tuts. Dia mungkin menganggapnya sangat sulit sehingga terlihat berjalan sendiri secara acak. Random walk? Komputer tidak bisa membuat nyanyian seperti Adele atau Depapepe. Kita masih membutuhkan penyanyi dan musikus untuk membuat musik.

Bukankah sama saja?  Program yang dia gunakan untuk modelling tidak cukup sensitif atau prosesornya tidak cukup kuat untuk meniru otak manusia.

Self-Fulfilling Prophecy

Ada lagi yang bilang bahwa di pasar modal berlaku Self-Fulfilling Prophecy, atau terjemahan bebasnya, ramalan yang terwujud sendiri. Disebutkanbahwa  karena cukup banyak trader yang melihat formasi harga yang sama, maka akhirnya prediksi para trader tersebut terwujud dengan sendirinya.

Pernyataan ini tidak lengkap. Banyak sekali hal dan intrik di pasar modal, sehingga seringkali harga tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan kebanyakan orang.

Hal ini mengingatkan saya pada “kegilaan” beberapa tahun lalu (mungkin masih ada gaungnya) tentang Law of Attraction, dimana orang yang membawa pengaruh buruk harus “disingkirkan” dari hidupmu, dan kita hanya boleh bergaul dengan orang sukses saja.  Di situ, kita bisa mendapat banyak uang hanya dengan berpikir kita akan mendapat banyak uang.  Hmm… terdengar kekanak-kanakan?  Sebagai placebo karena banyak yang mulai bangkrut di Amerika Serikat (mungkin karena mengikuti Rich Dad), ya, mungkin berguna.  Tapi sebenarnya yang jadi kaya tetap cuma tetap cuma segelintir orang saja, dengan, atau tanpa LoA (salah satunya pembicara dan penulis bukunya). (EN: mohon maaf atas kesinisannya)

Jangan takut, matahari akan tetap ada di pusat tata surya untuk SEMUA orang…

Mengapa pasar modal bukan merupakan Self-Fulfilling Prophecy?  Contoh paling mudah adalah di market bottom atau permulaan wave satu, biasanya banyak sekali analis dan trader, serta masyarakat umum yang masih berpendapat bahwa harga akan terus turun lagi. Jika Self-Fulfilling Prophecy, tentunya harga akan terus turun karena banyak sekali yang memprediksi harga akan terus turun.

Faktanya, ada segelintir pihak yang mengakumulasi di harga murah tersebut. Biasanya pihak-pihak ini adalah minoritas. Ingat Prinsip Pareto.  Sebagian besar uang di dunia… dikuasai oleh segelintir orang saja.

Atau Cramer Bounce, setelah suatu saham “diiklankan” di CNBC oleh Jim Cramer, harga melonjak sesaat.  Tapi setelah itu kembali ke harga semula, di luar perkiraan banyak orang.

Catatan Kaki dari Analis Teknikal

Analis teknikal, yang memantau perkembangan harga saham, mengetahui bahwa harga merupakan gabungan atau akumulasi dari banyak sekali faktor dan pandangan yang mempengaruhi: ketakutan, keserakahan, keinginan, kelicikan, kecurangan, kenaifan, perkiraan pendapatan (earnings estimates), kebutuhan broker untuk komisinya, kebutuhan manajer investasi untuk performa dan keamanan karirnya, permintaan dan penawaran dari saham, likuditas uang (kebijakan moneter) dan arus dari dana (asing/lokal, hot money, dll), tendensi untuk menghancurkan portofolio, kepasifan, jebakan, manipulasi, arogansi, konspirasi, fraud, dan dua muka, fase bulan dan matahari, siklus ekonomi dan pandangan masyarakat mengenainya, mood publik, dan kebutuhan manusia untuk menjadi benar.

Di tangan chartist (sebutan lain untuk analis teknikal) yang berpengalaman, chart (grafik harga) bisa menceritakan banyak hal. Namun, seperti seni lainnya, butuh jam-jam membosankan untuk belajar analisa teknikal. The Beatles telah bermain musik selama 10.000 jam sebelum terkenal. Di Hamburg. Di kafe pelaut yang sangat bising.

Formasi dari gerakan harga adalah “bahasa” dari pasar kepada kita… jika kita mau mendengar bisikannya…

Trade What You See, Not What You Think

February 29th, 2012

Dosen Saham

Saya pernah diberi nasehat, “Analisa terbaik adalah analisa kamu sendiri, tapi kamu perlu melakukan apa yang chart beritahu ke kamu, bukan apa yang kamu pikirkan.”  (Trade what you see, not what you think.)

Lho, maksudnya apa?  Karena saya yang trading, tentu saya trading sesuai dengan pandangan saya, sebodo amat dengan chart.  Well, perlu banyak waktu dan banyak trade yang jebol sebelum saya sadar, kadang apa yang saya pikirkan bertolak belakang dengan apa yang terlihat di chart.  Di dalam chart kita bisa melihat pola-pola teknikal, candlestick, dan indikator, tidak ubahnya dengan dashboard mobil yang kita kendarai.

Beranikah kamu berkendara menggunakan mobil tanpa dashboard?  Ada satu film (bintangnya Daniel Quaid, kalau nggak salah), dimana dia berkendara dengan truk yang dashboardnya rusak melintasi padang pasir.  Tapi Mr. Quaid tidak tahu instrumen dashboard tersebut rusak…sampai mobilnya mogok di tengah padang pasir!  Penyebabnya?  Kehabisan bensin.  Ketika dia memukul dashboardnya, barulah jarum penunjuk bensinnya jatuh.

Percayai chart-mu, jangan pikiranmu.

Chart adalah rekam jejak yang tidak terdistorsi oleh pikiran-pikiran salah.

Pikiran bisa dengan mudah terdistorsi, dari berita yang kita baca, yang kita lihat di TV.  Rekomendasi saham yang saat ini datang dari segala sisi.  Dulu cuma dari kolom di pinggir koran Bisnis Indonesia, sekarang bahkan di Facebook pun ada saja yang bicara saham.  Pandangan-pandangan individual yang belum tentu time frame tradingnya itu sama dengan kamu bisa saja “mengkontaminasi” rencana trading yang sudah kamu susun.  Dan belum lagi emosi yang ada di dalam trading…

Apalagi beberapa sumber internet yang “misterius” dimana seolah ramalannnya bisa datang dari sisi manapun.  Penyebab dan akibat pun bisa dibuat seolah terbalik (narrative fallacy), atau menjelaskan hal yang sudah jelas.

Apa perbedaan antara kalau saya bilang, “Harga jatuh 5%.” dengan “Harga jatuh 5% karena penjualan mobil merosot.”.  Pernyataan kedua adalah bahasa media.  Selalu harus ada “Why” atau “Kenapa” kalau menulis berita.  Tidak peduli apakah alasannya benar, asalkan masuk logika.  Ada beda antara benar dan masuk logika.  Kalau masuk logika, semua berita pasti masuk logika, tapi benar atau salah, itulah yang masih relatif.

Sebagai trader, “Harga jatuh 5%” adalah semua informasi yang kita butuhkan.  Just the facts.  Kita bisa periksa, ada di mana support, dimana para buyer itu berada?  Apakah sellernya masih kuat, atau buyernya cuma menunggu (“bidders“).  Pasar bidders bisa dengan cepat berubah menjadi rebound.  Para bidders yang merasa terlambat akan terus membeli.  Di mana target, dimana saya pasang target, dimana stoploss.  Semua itu…ada di chart, tidak ada di tempat lainnya.

Sebaliknya, “Harga naik 5%, karena Mr. XXX berkata bahwa kapasitas pabrik meningkat 50%.” tidak berarti ada 45% potential gain.  Berhati-hatilah dengan matematika singkat yang bisa mencelakakan ini.  Bisa jadi ketika harga naik 5%, disitulah kita harus…jual, karena harga sudah di level kritis… target dari Wave 5 dari 5.  Koreksi besar menunggu.  Semua itu…ada di chart, bukan di tempat lain.

Analisa prediktif bisa saja bilang “Target koreksi/rally IHSG adalah XXXX”, tapi ketika kita lihat pasar melawan secara signifikan, trader yang baik harus disiplin dan reaktif.  Chart bilang saya harus exit, maka saya exit.  Soal buyback lagi urusan nanti.  Sebaliknya, ada analis X bilang akan ada koreksi, tapi chart menunjukkan minat beli masih besar, maka kalau chart bilang hold, saya hold.  Soal harus jual, itu nanti urusan trailing stop saya.  Trader bukan analis yang “skor”-nya dihitung dari prediksi yang benar.  Trader “skor”-nya dihitung dari berapa return yang dihasilkannya per tahun, bisakah dia melewati taktik “buy and hold“-nya manajer investasi reksadana?  Atau bahkan, bisakah return per bulan (untuk yang trading for a living), menutup semua pengeluaran bulan itu?

Saya tahu, hold ketika profit sudah menggelembung bukan hal yang mudah.  Saya pernah dan terus mengalaminya.  Haruskah saya jual sekarang?  Apakah saya akan kehilangan profit ini?  Terkadang, itulah yang dipikirkan.  Tapi berpegang pada chart, selama masih ada yang mau beli di harga lebih tinggi, saya akan terus hold.  Seringkali, dengan cara itu, saya bisa memaksimalkan gain.

Seringkali juga, trader (terutama yang baru), terjebak pada pemikiran bahwa dia adalah newbie, sehingga tidak pantas untuk profit besar.  Percayalah, kalau kamu sudah trading dengan benar, walaupun baru sebentar, kamu pantas untuk profit besar.  Itulah balasan kamu untuk trading dengan benar.

Time To Go Fishing?

December 28th, 2011

Dosen Saham

Saya beberapa waktu ini tidak update web maupun Twitter.  Tampaknya yang mencoba menghubungi saya melalui email juga saya cuekin… Bukannya saya sombong, tapi bulan Desember ini saya memang sangat sibuk dengan “urusan lain”.  Kira-kira setelah lewat tanggal 16 Desember, saya sudah “nyerah” mengharap adanya window dressing yang ternyata cuma terjadi di saham-saham konstruksi (PTPP, TOTL, WIKA).  Sudah deh, saya pikir. Tahun ini memang bukan tahun yang baik untuk trading.

Kalau dipikir-pikir, memang banyak target saya yang tidak tercapai tahun ini di dunia trading.  Mungkin karena saya sendiri kurang fokus.

Jesse Livermore pernah berkata bahwa trading adalah pekerjaan full time, dimana trader atau spekulator itu harus mengabdikan seluruh dirinya ke dalam pekerjaannya (trading).  Sungguh benar sekali kata-kata tersebut.

Saya pikir saya sudah cukup berpengalaman untuk terbang dengan “auto pilot”, trading “sistem” tanpa terlalu mengindahkan “discretionary”.  Well, saya salah.  Frost dan Pretcher juga pernah menulis, ketika investor terbiasa dengan cara trading tertentu, waktu itulah market berubah.  Kalau dimasukkan ke wave, wave 2 dan wave 4 akan berbeda bentuknya.

IHSG saat ini sendiri masih berada di posisi sideways dengan volume sangat rendah.  Saya akan menunggu tembusnya resisten 3800 baru agresif.  Sementara ini posisi saya masih cenderung defensif dan saya tidak berharap banyak.

Selamat Hari Natal bagi yang merayakan, dan Selamat Tahun Baru 2012.

Semoga tahun depan membawa berkah yang lebih besar bagi kita semua.

Uncle Ben’s “Operation Twist”

September 22nd, 2011

Dosen Saham

INI adalah jaman central bankers.  Setelah The Fed menelurkan QE1 dan QE 2 yang membuat harga-harga di pasar ekuitas melonjak drastis, kali ini Ben membuat stimulus baru: sesuatu yang disebut oleh pasar sebagai “Operation Twist”.

Sebenarnya, pasar sudah mengharapkan stimulus ini sejak seminggu yang lalu.  Berita dan analisa telah menunjuk setidaknya ada 2 dari 3 chance akan diumumkan Operation Twist.  Apa itu Operation Twist?  The Fed akan membeli US$400 milyar treasury bond yang akan jatuh tempo dalam enam tahun sampai 20 tahun sebelum Juni 2012, sambil menjual jumlah yang sama treasury bond dengan jatuh tempo tiga tahun atau kurang.  The Fed juga akan mempertahankan posisinya di pasar kredit perumahan (mortgage).

Pasar mengharapkan Operation Twist sebesar US$300 milyar, Uncle Ben memberikan US$400 milyar.  Di tengah tekanan dari Kongres, terutama Partai Republik, yang melalui surat meminta The Fed untuk tidak melakukan apapun karena dituduh tidak berguna, Uncle Ben tetap meluncurkan kebijakannya.

Well, sebenarnya aksi The Fed telah sesuai dengan ekspektasi pasar.  Tapi, kenapa Dow kemarin tetap turun 2%?  Reaksi di pasar obligasi sudah menunjukkan pasar berusaha mendahului gerakan The Fed dan membuat yield bond turun.

Kami berpandangan bahwa tampaknya pelaku pasar masih tertuju pada krisis Eropa, terutama ancaman default Yunani.  Uncle Ben telah melakukan apa yang bisa dia lakukan, dan tidak mengecewakan pasar.  Sekarang giliran “troika” Eropa: ECB, EU, dan IMF.

Ekonomi dunia membaik, masalahnya di Asia termasuk Indonesia, bank-bank Eropa sedang mencari pendanaan di Asia.  Jika pendanaan berupa obligasi ber-yield tinggi, bisa saja akan terjadi balancing portfolio antara saham dan obligasi, dimana investor institusional menjual saham untuk meminjamkan uang pada mereka.  Beberapa bank Eropa seperti BNP Paribas juga sedang mencari likuiditas dengan menjual aset equity mereka di Asia.  Karena harga-harga di BEI sudah cukup tinggi, mereka melakukan aksi profit takingEither way, it doesn’t look very good as of now.

(Photo credit: AFP)