Skip to content

Posts from the ‘Belajar’ Category

Review Mingguan Saham (14 Februari 2014)

February 15th, 2014

Dosen Saham

Hari ini #IHSG ditutup di 4508 atau naik 0.36% dari hari sebelumnya, dimana IHSG kembali menguji resisten 4510 yang gagal dilewati 23 Januari 2014 silam.  Value transaksi Rp5,277 Trilyun dimana asing membukukan netbuy Rp44.7 miliar.

Secara teknikal, IHSG masih memiliki kesempatan untuk melewati resisten dan mencoba area 4700 dengan didukung rally dari saham-saham bluechip, dan didukung oleh Rupiah yang bergerak ke bawah level Rp12000 karena fundamental ekonomi Indonesia yang baik.

Minggu depan perhatikan beberapa saham seperti ASII, AISA, ADRO, UNTR, dan PTBA.

Happy trading!

The Signal and The Noise

March 10th, 2013

Dosen Saham

DP182

Di dalam trading (terutama di dalam trading), tindakan beli/jual saham kita sangat bergantung pada sinyal yang ditunjukkan oleh chart kepada kita.  Sedangkan di pasar (selayaknya dalam pasar), banyak sekali “noise” atau keributan, yang kalau saya daftarkan terdiri dari satu atau lain hal berikut ini:

  1. Stock pick di facebook, twitter, blog, miliis.
  2. “Marketing Campaign” di running trade.
  3. Chatroom.
  4. Berita di koran, website, CNBC.
  5. Bisikan teman, broker.
  6. False breakout, false breakdown.

Mungkin ada yang lain, silakan ditambahkan saja sendiri.  Tapi intinya, banyak sekali gangguan/keributan di pasar modal.  Kalau di Zen, ada ungkapan: “Cobalah bersemedi di dalam pasar.”  Sama saja: cobalah berpikir rasional di dalam pasar.

Jangan dicoba.  Tidak akan bisa.

Selama lebih dari sepuluh tahun saya memperhatikan pasar, dan orang-orang yang berkecimpung di dalamnya.  Orang-orang yang paling untung adalah orang-orang yang “memanfaatkan” pasar, dan bukan bergabung dengan kegilaan di dalamnya.  Mereka bisa membedakan sinyal dan noise.  Noise tidak bisa mematahkan sinyal dan mereka akan berpegang teguh pada stockpick yang mereka buat sendiri, atau berasal dari sumber yang sangat terpercaya, atau walaupun mereka “tercebur”, mereka tidak terhanyut, karena sudah belajar cara berenang dengan baik, sampai bisa membedakan sinyal itu sendiri.

Apa saja sinyal itu?  Bisa jadi salah satu dari hal-hal berikut ini:

  1. Nilai wajar (Fair Value) dari saham tersebut.  Buy undervalued stocks.
  2. Trend.
  3. Breakout (resistance, Bollinger Band, Flag, etc).
  4. Support dan resistance.
  5. Volume dan net buy asing.
  6. Volatilitas.

Masih banyak lagi yang lain.  Setiap orang mungkin bisa melihat hal yang berbeda.  Tapi karena pasar demokratis, selama dia bisa profit from the market, bagi saya itu adalah hal yang sah-sah saja.  Sekarang, bagaimana cara membedakan sinyal dan noise tersebut?  Latihan, latihan, latihan.  Kamu tidak akan bisa menyetir di jalan raya kalau tidak diajarkan artinya lampu hijau-kuning-merah dan rambu-rambu lalu lintas.  Kembali ke Zen, kamu tidak akan bisa bermeditasi kalau tidak ada yang mengajarkan terlebih dahulu.

Trader yang baik tidak pernah berhenti belajar.  Pengalaman adalah guru paling mahal.  Orang pintar bisa belajar dari pengalaman orang lain.

(Bergabunglah dengan komunitas trading – email ke join@pojoksaham.com)

SDSB ala Bursa Efek

March 8th, 2013

Dosen Saham

sdsb

Masih ingat dulu di Indonesia, ada kupon-kupon yang namanya SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah).  Harga per kuponnya Rp5000 dengan hadiah Rp1 Milyar.  Jadi, semua orang Indonesia bisa main “Who Wants To Be A Millionaire” dengan 5000 perak.  Eh, tunggu dulu.  Rp5000 perak itu besar lho waktu itu, karena bisa beli 25 mangkok bakso di lagu “Abang Tukang Baso”-nya Melissa.

Sekarang, saya masih melihat ada beberapa investor yang mindset-nya hampir sama.  Beli saham seperti kupon tersebut.  Jadi, beli dan dibiarkan sampai untung/rugi besar.  Apakah ini masuk akal?  Ayo kita pikirkan sama-sama.

Misalkan ada yang mengusulkan untuk beli 100 saham penny stock dan ditunggu sepuluh tahun.  99 ternyata rugi dan nyangkut di harga Rp50 dan tidak bisa dijual lagi!  Satu naik 4500% seperti LPCK.  Berarti setelah sepuluh tahun, uang Rp10 juta menjadi Rp4,5jt ditambah 99 saham nyangkut.

Mungkin kamu tidak se-ekstrim itu, tapi jumlahnya bisa saja cuma 20-30 saham, tapi campur-campur dan konsepnya seperti “Supermarket Saham”, dimana semua saham gorengan ada di situ.  Wkwkwkwk.

Bandingkan dengan reksadana yang mulai dari Rp1000.  Karena manajer investasinya profesional, dia sudah menghitung dulu fundamental perusahaan, sehingga dalam kurun waktu yang sama Rp1000 bisa menjadi Rp50.000 atau lebih, dengan kata lain Rp10 juta bisa menjadi Rp500 juta.  Memang belum Rp1 milyar sih, tapi kalau strateginya DCA (Dollar Cost Averaging), malah mungkin dengan “cuma” menyisihkan Rp600 ribu per bulan (Rp20.000 per hari/4 kupon SDSB), tapi dengan konsisten, bisa jadi hasilnya sudah lebih dari Rp 1 Milyar.

Ada yang tertarik mencobanya?

 

Yeee-haw!!

March 4th, 2013

Dosen Saham

bull-riding

Selamat pagi.  Akhir-akhir ini tampaknya matahari bersinar lebih cerah, burung-burung bersiul lebih merdu, dan beban di pundak terasa sangat ringan.  (posisi IHSG new high 4811)

Kalau si banteng sedang menerjang dengan kuatnya, tampaknya segala berita buruk tidak ada yang menjadi kekhawatiran investor.  Saham-saham tetap diburu oleh asing, dan trader domestik yang sudah kebelet ke WC (baca: Wave C) juga mungkin akan merevisi target di masa bullish yang sangat panjang ini.

Ada kearifan penting dari trader sukses jaman dulu:  “Ride the trend until the end.”  Tunggangi trend sampe berakhir.  Yeee-haw!!

Money Management

January 15th, 2013

Dosen Saham

Ada kalanya seseorang yang telah menguasai disiplin dan teknik trading menggunakan chart (analisa teknikal), dan money management yang basic, menemukan sebuah “langit-langit” yang sulit ditembus, yaitu return per bulan yang “kurang” besar.  Bukan karena pembawaan, bukan karena trailing stop, tapi lebih karena position sizing yang kelewat konservatif.  Seri artikel ini akan mengupas beberapa teknik money management yang umum digunakan pada position sizing trading, dan beberapa juga saya gunakan dalam trading saya.  Tujuan saya menulis adalah untuk berpikir.  Saya sedang berpikir: bagaimana cara mendapatkan ukuran yang lebih optimal dalam money management untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Bergabunglah dengan diskusi ini via Twitter: @pojoksaham

Kita mulai saja dengan mengenal terlebih dahulu, apa itu money management.

Money Management adalah sebuah konsep yang defensif.  Artinya money management ada di sana untuk melindungi modal trader dari kemungkinan wipeout atau habis seketika.  Ketika trader newbie atau pemula sedang belajar, money management ini mutlak ada agar dia bisa memiliki waktu belajar dan modalnya tidak habis.  Jika kamu mengikuti money management yang konservatif, maka modal kamu tidak mungkin akan habis dalam waktu singkat, dan kamu akan bisa menguasai satu atau dua hal.

Money Management juga adalah konsep pengelolaan resiko.  Pasar modal yang volatile tidak bisa ditebak, tapi kamu bisa mengukur resiko sebuah posisi yang kamu ambil dengan konsep money management.  Misalkan modal kamu Rp100jt.  Setiap posisi kamu memiliki resiko 1jt (1%) dan kamu punya lima posisi seperti itu, maka total resiko kamu (“heat”) adalah 5%.  Portofolio yang “cool” adalah portofolio yang konservatif dengan hasil yang juga konservatif.

Money Management digunakan untuk optimalisasi penggunaan modal.  Pernahkah kamu memiliki 70% idle cash pada saat pasar sedang bullish?  Berarti penggunaan modal belum optimal.  Heat dari portofolio mungkin terlalu “adem” karena mengejar volatilitas yang rendah, padahal di luar sana sedang banyak kesempatan…

Sekarang, kamu tidak akan bisa mengukur dengan tepat peluang sebuah posisi akan menghasilkan keuntungan, karena jika bisa maka pertanyaan ini tidak akan muncul.  Kamu juga bergelut dengan pasar yang asimetris yang bisa memberikan keuntungan besar dan kerugian besar dalam saat tertentu.  Jadi, backtesting sebenarnya tidak berguna.  Apa yang bisa dilakukan?

Kebanyakan trader menemukan keseimbangan dari dua hal:  karakter, dan trial and error.  Trader dengan karakter agresif akan cenderung lebih berani menempatkan modalnya.   Ketika dia untung, dia untung besar, dan ketika rugi, dia rugi besar.  Trader dengan karakter konservatif cenderung lebih terukur.  Ketika untung, dia tidak untung besar, tapi ruginya juga kecil-kecil.  Keduanya dari pengalaman bisa menemukan “keseimbangan” dari cara tradingnya, dibuktikan dengan keuntungan konsisten yang dia hasilkan setiap bulannya dengan drawdown atau volatilitas portofolio yang bisa dia terima.

Aturan 2% dan 6%

Two percent and six percent rule diperkenalkan oleh Dr. Alexander Elder dan bisa menjadi awal yang baik untuk belajar money management.  Dalam aturan 2%, sebuah posisi tidak boleh memiliki resiko lebih dari 2% dari total ekuitas.  Dalam aturan 6%, total dari resiko seluruh posisi tidak boleh lebih dari 6% dari total ekuitas.  Jika saya nilai, aturan ini adalah termasuk konservatif.

Contoh penerapannya sebagai berikut:  misalkan modal kamu Rp100jt.  Jika kamu membeli saham A dengan nilai Rp10jt, resiko saham A, yaitu jarak dari harga beli ke stoploss tidak boleh lebih dari Rp2jt (2%).  Dan sebelum saham A bisa kamu pindahkan ke breakeven, kamu terbatas membeli tiga macam saham saja dengan resiko masing-masing 2% (= total 6%).  Misalkan pasar crash, maka kamu cuma kena resiko 6% itu, tidak lebih.  Setelah 6% kena, maka kamu harus libur trading selama satu bulan.

Apakah aturan ini berguna?  Ya, tentu saja.  Aturan ini sangat berguna, karena menjaga kamu dari mengambil pilihan bodoh, dan crash.  Tapi aturan ini, karena basic juga memiliki kekurangan…

Apa saja kekurangannya, nanti kita lanjutkan.