Sabtu lalu di koran saya membaca sebuah kolom kecil tentang Kodawari. Kodawari adalah kata yang digunakan orang Jepang untuk menggambarkan fokus, obsesi, keuletan, kegigihan, dan kesungguhan mutlak dalam mengerjakan hal-hal paling remeh sekalipun. Dengan kodawari, tidak ada satu langkah pun yang tidak penting. Melalui kodawari, setiap aktivitas punya makna yang sangat berpengaruh dalam suatu rangkaian proses. Berapa detik soba (mie jepang) harus direbus? Pada temperatur berapa derajat celcius? Apa ukuran ideal sushi atau sashimi sehingga dapat dilahap sekaligus? Bagaimana penyajian yang mengundang selera, tapi tidak berlebihan? Secara mudah mungkin bisa disimpulkan kalau kodawari adalah niatan dalam setiap aksi. Pemahaman ini jadi membuat saya bertanya-tanya apakah setiap aktivitas yang saya lakukan sudah dilandasi oleh niatan yang tepat, sahih, dan relevan?
The difference between ordinary and extraordinary is just that little extra. Banyak cerita sukses sudah diperdengarkan, tetapi yang sering terlupakan adalah langkah-langkah kecil penuh niatan yang merangkai setiap kisah sukses tersebut.
Practice does not make perfect – perfect practice make perfect. Sebagai sebuah seni, analisa teknikal membutuhkan keahlian dari praktisinya untuk bisa berjalan dengan baik dan menghasilkan keuntungan. Ingat, keuntungan adalah hasil akhir. Bisa saja hanya dengan keberuntungan (blind luck) keuntungan didapat, tapi jika ingin return yang benar-benar konsisten, maka seorang praktisi juga harus benar-benar belajar dengan serius tentang dasar-dasar analisa teknikal dan memahami pasar melalui sumber-sumber yang terpercaya dan latihan yang sering dan terarah, dilandasi dengan niatan yang benar.
Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari kebiasaan. Kabar baiknya, perubahan sedikit pada kebiasaan bisa jadi penentu arah hidup seseorang. Kabar buruknya, sebagian besar kebiasaan dilakukan dengan niat salah atau lebih buruk lagi, tanpa niat sama sekali. Apakah ada kebiasaan buruk yang hendak kamu hilangkan? Apakah ada kebiasaan baru yang ingin kamu lazimkan? Kodawari! Pastikan dulu untuk diniatkan sebelum mulai melakoninya dan setelah itu, jalankan setiap langkah dengan penuh niat. Pastikan setiap tarikan garis, setiap tindakan, beli atau jual, dilakukan dengan penuh niat. Hilangkanlah kebiasaan menahan saham yang sedang turun atau mencoba menangkap pisau jatuh, atau mencari rekomendasi. Mulailah melakukan analisa sendiri, mengakumulasi keuntungan saham yang terus naik, dan rajin sharing dan bersedekah.
Cobalah dan rasakan bedanya. (@pojoksaham)
Random Walk Theory dan Self-Fulfiling Prophecy adalah dua hal yang sering dijadikan kritikan pihak akademisi dan non-praktisi kepada analis teknikal atau trader atas tindakannya mencoba “memprediksi” pergerakan harga saham. Di sini saya ingin mencoba sharing pengetahuan saya tentang kedua masalah ini.
Random Walk Theory
Random Walk Theory, atau terjemahan bebasnya Teori Jalan Acak. Bayangkan orang mabuk (atau mikrolet atau bajaj di ibukota, kalau kamu inginkan). Kamu tidak akan bisa menebak dia akan berbelok ke kiri atau ke kanan, atau jalan lurus saja. Atau bahkan berhenti di tengah jalan. Begitu juga orang lain. Tidak ada yang bisa. Hanya supirnya dan Tuhan yang tahu.
Mikrolet Berbelok: Contoh Nyata Random Walk
Para penganut Random Walk Theory ini (biasanya akademisi) menganggap harga saham itu seperti mikrolet. Kamu tidak akan pernah bisa memperkirakan besok dia akan naik atau turun, dan semua usaha untuk menganalisa jalannya gerakan pasar modal dan harga saham itu percuma, atau tidak ada gunanya.
Dan bukan cuma dia saja, akademisi dan profesor (Ph.D.) seperti Nassim Nicholas Thaleb (penulis buku “The Black Swan” dan “Fooled by Randomness“) juga memiliki argumen tentang randomness atau keacakan. Tapi Thaleb adalah filsuf dengan pemikiran yang luas, sehingga walaupun dia mengkritisi randomness, sasarannya terutama adalah para penjual option. Saya yakin, sebagai trader, saya dan dia kalau ngobrol akan cocok (terutama tentang manajemen resiko).
Kalau menurut saya (dan analis teknikal yang baik tentu akan setuju), gerakan harga saham itu tidak acak. Bisa jadi para akademisi tersebut terlalu mengandalkan model-model komputernya. Mereka lupa, komputer yang paling canggih yang diciptakan oleh Tuhan tetap adalah otak manusia. Akademisi secara teoritis mencoba mensimulasi gerakan pasar modal, dan gagal menemukan suatu formula, suatu alat prediksi yang bisa memprediksi harga, dan menyatakan, “pasar modal merupakan random walk”.
Seorang anak berumur sepuluh tahun yang tidak pernah menyentuh piano, melihat Richard Clayderman memainkan Fur Elise. Tangannya terlihat menari-nari di atas tuts. Dia mungkin menganggapnya sangat sulit sehingga terlihat berjalan sendiri secara acak. Random walk? Komputer tidak bisa membuat nyanyian seperti Adele atau Depapepe. Kita masih membutuhkan penyanyi dan musikus untuk membuat musik.
Bukankah sama saja? Program yang dia gunakan untuk modelling tidak cukup sensitif atau prosesornya tidak cukup kuat untuk meniru otak manusia.
Self-Fulfilling Prophecy
Ada lagi yang bilang bahwa di pasar modal berlaku Self-Fulfilling Prophecy, atau terjemahan bebasnya, ramalan yang terwujud sendiri. Disebutkanbahwa karena cukup banyak trader yang melihat formasi harga yang sama, maka akhirnya prediksi para trader tersebut terwujud dengan sendirinya.
Pernyataan ini tidak lengkap. Banyak sekali hal dan intrik di pasar modal, sehingga seringkali harga tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan kebanyakan orang.
Hal ini mengingatkan saya pada “kegilaan” beberapa tahun lalu (mungkin masih ada gaungnya) tentang Law of Attraction, dimana orang yang membawa pengaruh buruk harus “disingkirkan” dari hidupmu, dan kita hanya boleh bergaul dengan orang sukses saja. Di situ, kita bisa mendapat banyak uang hanya dengan berpikir kita akan mendapat banyak uang. Hmm… terdengar kekanak-kanakan? Sebagai placebo karena banyak yang mulai bangkrut di Amerika Serikat (mungkin karena mengikuti Rich Dad), ya, mungkin berguna. Tapi sebenarnya yang jadi kaya tetap cuma tetap cuma segelintir orang saja, dengan, atau tanpa LoA (salah satunya pembicara dan penulis bukunya). (EN: mohon maaf atas kesinisannya)
Jangan takut, matahari akan tetap ada di pusat tata surya untuk SEMUA orang…
Mengapa pasar modal bukan merupakan Self-Fulfilling Prophecy? Contoh paling mudah adalah di market bottom atau permulaan wave satu, biasanya banyak sekali analis dan trader, serta masyarakat umum yang masih berpendapat bahwa harga akan terus turun lagi. Jika Self-Fulfilling Prophecy, tentunya harga akan terus turun karena banyak sekali yang memprediksi harga akan terus turun.
Faktanya, ada segelintir pihak yang mengakumulasi di harga murah tersebut. Biasanya pihak-pihak ini adalah minoritas. Ingat Prinsip Pareto. Sebagian besar uang di dunia… dikuasai oleh segelintir orang saja.
Atau Cramer Bounce, setelah suatu saham “diiklankan” di CNBC oleh Jim Cramer, harga melonjak sesaat. Tapi setelah itu kembali ke harga semula, di luar perkiraan banyak orang.
Catatan Kaki dari Analis Teknikal
Analis teknikal, yang memantau perkembangan harga saham, mengetahui bahwa harga merupakan gabungan atau akumulasi dari banyak sekali faktor dan pandangan yang mempengaruhi: ketakutan, keserakahan, keinginan, kelicikan, kecurangan, kenaifan, perkiraan pendapatan (earnings estimates), kebutuhan broker untuk komisinya, kebutuhan manajer investasi untuk performa dan keamanan karirnya, permintaan dan penawaran dari saham, likuditas uang (kebijakan moneter) dan arus dari dana (asing/lokal, hot money, dll), tendensi untuk menghancurkan portofolio, kepasifan, jebakan, manipulasi, arogansi, konspirasi, fraud, dan dua muka, fase bulan dan matahari, siklus ekonomi dan pandangan masyarakat mengenainya, mood publik, dan kebutuhan manusia untuk menjadi benar.
Di tangan chartist (sebutan lain untuk analis teknikal) yang berpengalaman, chart (grafik harga) bisa menceritakan banyak hal. Namun, seperti seni lainnya, butuh jam-jam membosankan untuk belajar analisa teknikal. The Beatles telah bermain musik selama 10.000 jam sebelum terkenal. Di Hamburg. Di kafe pelaut yang sangat bising.
Formasi dari gerakan harga adalah “bahasa” dari pasar kepada kita… jika kita mau mendengar bisikannya…
Saya pernah diberi nasehat, “Analisa terbaik adalah analisa kamu sendiri, tapi kamu perlu melakukan apa yang chart beritahu ke kamu, bukan apa yang kamu pikirkan.” (Trade what you see, not what you think.)
Lho, maksudnya apa? Karena saya yang trading, tentu saya trading sesuai dengan pandangan saya, sebodo amat dengan chart. Well, perlu banyak waktu dan banyak trade yang jebol sebelum saya sadar, kadang apa yang saya pikirkan bertolak belakang dengan apa yang terlihat di chart. Di dalam chart kita bisa melihat pola-pola teknikal, candlestick, dan indikator, tidak ubahnya dengan dashboard mobil yang kita kendarai.
Beranikah kamu berkendara menggunakan mobil tanpa dashboard? Ada satu film (bintangnya Daniel Quaid, kalau nggak salah), dimana dia berkendara dengan truk yang dashboardnya rusak melintasi padang pasir. Tapi Mr. Quaid tidak tahu instrumen dashboard tersebut rusak…sampai mobilnya mogok di tengah padang pasir! Penyebabnya? Kehabisan bensin. Ketika dia memukul dashboardnya, barulah jarum penunjuk bensinnya jatuh.
Percayai chart-mu, jangan pikiranmu.
Chart adalah rekam jejak yang tidak terdistorsi oleh pikiran-pikiran salah.
Pikiran bisa dengan mudah terdistorsi, dari berita yang kita baca, yang kita lihat di TV. Rekomendasi saham yang saat ini datang dari segala sisi. Dulu cuma dari kolom di pinggir koran Bisnis Indonesia, sekarang bahkan di Facebook pun ada saja yang bicara saham. Pandangan-pandangan individual yang belum tentu time frame tradingnya itu sama dengan kamu bisa saja “mengkontaminasi” rencana trading yang sudah kamu susun. Dan belum lagi emosi yang ada di dalam trading…
Apalagi beberapa sumber internet yang “misterius” dimana seolah ramalannnya bisa datang dari sisi manapun. Penyebab dan akibat pun bisa dibuat seolah terbalik (narrative fallacy), atau menjelaskan hal yang sudah jelas.
Apa perbedaan antara kalau saya bilang, “Harga jatuh 5%.” dengan “Harga jatuh 5% karena penjualan mobil merosot.”. Pernyataan kedua adalah bahasa media. Selalu harus ada “Why” atau “Kenapa” kalau menulis berita. Tidak peduli apakah alasannya benar, asalkan masuk logika. Ada beda antara benar dan masuk logika. Kalau masuk logika, semua berita pasti masuk logika, tapi benar atau salah, itulah yang masih relatif.
Sebagai trader, “Harga jatuh 5%” adalah semua informasi yang kita butuhkan. Just the facts. Kita bisa periksa, ada di mana support, dimana para buyer itu berada? Apakah sellernya masih kuat, atau buyernya cuma menunggu (“bidders“). Pasar bidders bisa dengan cepat berubah menjadi rebound. Para bidders yang merasa terlambat akan terus membeli. Di mana target, dimana saya pasang target, dimana stoploss. Semua itu…ada di chart, tidak ada di tempat lainnya.
Sebaliknya, “Harga naik 5%, karena Mr. XXX berkata bahwa kapasitas pabrik meningkat 50%.” tidak berarti ada 45% potential gain. Berhati-hatilah dengan matematika singkat yang bisa mencelakakan ini. Bisa jadi ketika harga naik 5%, disitulah kita harus…jual, karena harga sudah di level kritis… target dari Wave 5 dari 5. Koreksi besar menunggu. Semua itu…ada di chart, bukan di tempat lain.
Analisa prediktif bisa saja bilang “Target koreksi/rally IHSG adalah XXXX”, tapi ketika kita lihat pasar melawan secara signifikan, trader yang baik harus disiplin dan reaktif. Chart bilang saya harus exit, maka saya exit. Soal buyback lagi urusan nanti. Sebaliknya, ada analis X bilang akan ada koreksi, tapi chart menunjukkan minat beli masih besar, maka kalau chart bilang hold, saya hold. Soal harus jual, itu nanti urusan trailing stop saya. Trader bukan analis yang “skor”-nya dihitung dari prediksi yang benar. Trader “skor”-nya dihitung dari berapa return yang dihasilkannya per tahun, bisakah dia melewati taktik “buy and hold“-nya manajer investasi reksadana? Atau bahkan, bisakah return per bulan (untuk yang trading for a living), menutup semua pengeluaran bulan itu?
Saya tahu, hold ketika profit sudah menggelembung bukan hal yang mudah. Saya pernah dan terus mengalaminya. Haruskah saya jual sekarang? Apakah saya akan kehilangan profit ini? Terkadang, itulah yang dipikirkan. Tapi berpegang pada chart, selama masih ada yang mau beli di harga lebih tinggi, saya akan terus hold. Seringkali, dengan cara itu, saya bisa memaksimalkan gain.
Seringkali juga, trader (terutama yang baru), terjebak pada pemikiran bahwa dia adalah newbie, sehingga tidak pantas untuk profit besar. Percayalah, kalau kamu sudah trading dengan benar, walaupun baru sebentar, kamu pantas untuk profit besar. Itulah balasan kamu untuk trading dengan benar.
Sekarang kita bicara tentang keuntungan. Setelah kamu berhasil menaikkan stop ke level impas, maka sebenarnya risk kamu sudah berkurang sangat banyak sehingga menjadi hampir nol.
Kamu bisa menentukan trailing stop secara subjektif atau objektif. Paling sederhana adalah jika kamu menentukannya secara subjektif, misalnya jika pasar melawan sebesar 3% atau lebih dari top, saya akan jual. Tapi pasar sebenarnya tidak peduli dengan pemikiran kamu itu, jadi yang saya gunakan biasanya adalah cara objektif, dan bahkan seringkali sudah di-adjust secara volatilitas (he he…). Tentu kamu tidak berpikir trailing stop untuk UNVR dan PNLF sama bukan?
Namun sekali lagi, keberhasilan hal ini akan tergantung sekali dengan kondisi market pada saat tertentu dan success rate dari penentuan trend saham yang kamu pilih. Semakin ahli kamu menganalisa trend (dan lamanya trend itu AKAN berlangsung), semakin baik hasil dari strategi ini.
Trailing stop yang objektif ada beberapa macam:
- Last Low
- Trendline
- Moving Average
- Support
- Pattern
- Parabolic SAR
- Chandelier Stop
- Volality-adjusted
Makin ke bawah makin rumit. Saya akan jelaskan satu-satu, dimulai dengan yang paling sederhana (tapi masih efektif).
Last Low
Jesse Livermore pernah bertemu dengan trader yang menggunakan trailing stop yang sangat sederhana ini dengan kesuksesan yang besar. Saya sendiri juga seringkali menggunakan metode sederhana ini jika beberapa kondisi sudah dipenuhi, misalnya profitnya sudah cukup besar, atau market sedang ada potensi reversal.
Aturannya sangat sederhana: naikkan trailing stop di level low dari pergerakan hari sebelumnya. Misalkan jika sebuah saham bergerak dibuka di 1750, membuat low di 1700, lalu ditutup di 1800, maka hari berikutnya kamu meletakkan trailing stop di 1700. Sederhana bukan? Aturan ini memastikan jika harga terus naik, maka kamu tidak akan keluar, dan juga trailing ini adalah trailing dengan resiko terkecil, karena resikonya cuma pergerakan satu hari.
Masalahnya, seperti semua stop yang ketat lainnya, dalam kondisi yang salah, trailing stop ini akan sangat rentan dengan whipsaw. Tapi, untuk belajar trailing stop, silakan coba di chart kamu, jika kamu bersedia mengambil resiko lebih satu hari pergerakan, berapa gain tambahan yang bisa kamu dapatkan?
Contoh aktual ada di Premium Newsletter 13 Februari 2012, dimana ASRI yang dijadikan Trailing di sana. Hari ini menurut aturan Last Low yang disebutkan disana, ASRI harus dijual karena sudah tembus level low sebelumnya di 580. Yang harus kamu perhatikan adalah betapa dekatnya trailing tersebut dengan resisten channel dan potensi profitnya sudah maksimal, seperti chart di bawah ini:
To be continued…
Di dalam setiap pasar selalu ada harga permintaan (bid) dan harga penawaran (offer). Beberapa buku menyebutkan suatu transaksi (trade) terjadi ketika pembeli yang paling serakah membeli (makan offer), atau penjual yang paling takut menjual (buang bid). Tapi di pasar sebenarnya, bisa saja bukan hal itu yang terjadi. Langkah pertama yang perlu dipikirkan adalah mempertimbangkan baik-baik untuk menggunakan market order jika masih masuk akal dibandingkan dengan limit order untuk membeli atau menjual saham, averaging, dan teknik bayangan.
Sebuah analisa bisa saja benar, tapi entry pointnya sudah bergerak naik. Bullish di sebuah saham, tapi tidak memiliki posisi sama saja tidak mengkapitalisasi analisa yang sudah kamu buat. Rencana trading adalah 50% dari permainan, tapi 50%-nya lagi adalah improvisasi dan perhitungan cepat reward to risk ratio di pasar yang sedang bergerak. Hal pertama untuk memaksimalkan cuan adalah untuk selalu bertindak. Maksud saya begini. Misalkan kamu menganalisa support sebuah saham Y di 1600, dimana hari sebelumnya sudah menyentuh harga tersebut, tapi hari kamu trading, harga sudah membuat fraktal, sehingga bid yang kamu pasang dari jam 9.50 di 1600 tidak kena (harga bottoming di 1610), sedangkan target kamu di 1900 (20%). Apa yang kamu lakukan?
Beberapa trader terus menunggu dan akhirnya tertinggal. Sebuah analisa harus ditindaklanjuti dengan sebuah trade, jadi pastikan saham Y tersebut ada di portofolio, bagaimanapun caranya. Ya, bahkan jika harganya sudah di 1700, tetap beli di market order pada jam 15.45 (dekat penutupan). Tapi tentu dengan perhitungan matang. Jika risk saya sebelumnya cuma 0,5% dari modal, saya tetap akan menjaga risk tidak terlalu jauh dari situ. Semakin tinggi saya harus membeli, semakin sedikit (secara relatif) jumlah posisi saya. Averaging posisi (baik beli maupun jual) akan memastikan bahwa sebuah analisa memiliki tindak lanjut. Langkah pertama adalah tetap menjadi kekuatan positif, yaitu bertindak searah dengan prediksi, beli ketika prediksi naik, jual ketika prediksi turun. Nanti akan kita bahas teknik bayangan yang bertindak sebaliknya yang akan berguna pada beberapa kasus.
Nah, sekarang saham yang sudah dibeli tersebut sudah naik 10%, misalkan ke level 1840, tapi belum mencapai target 1900 dan terlihat menemukan resisten baru di 1840. Apa yang kamu lakukan? Di sinilah kita mengenal trailing stop atau stop yang bergerak. Kamu tidak perlu langsung menjual jika analisa kamu masih mengatakan saham tersebut masih uptrend, tapi kamu harus menaikkan stoploss ke level break-even (impas) sehingga menjadi trailing stop yang pertama.
Aturan pertama untuk trailing stop adalah stop tersebut harus terus naik dan tidak boleh diturunkan, apapun alasannya. Misalkan, jika saham kamu beli di 1700, dan stoploss di 1590, setelah naik ke 1840, kamu boleh naikkan ke 1700, sehingga paling buruk, kamu cuma rugi fee atau breakeven. Dan apapun alasannya, kamu tidak boleh menurunkan stop kamu lagi, walaupun ke 1650. Sekali stop itu naik, maka harus tetap berada di sana, atau naik (trailing).
Nah, jika kamu sudah menaikkan level stop kamu ke breakeven, kamu memiliki kebebasan yang besar untuk mengelola posisi kamu. Hal yang paling penting diperhatikan tetap reward to risk ratio. Kamu harus menghitung harga saham kamu dalam average pembelian, bukan LIFO (Last In First Out) seperti yang saya lihat di banyak trader pemula. Pokoknya harus average. Titik.
Reward to risk ratio dihitung dari average tersebut. Begitu juga untuk memaksimalkan posisi dan jual sebagian posisi untung (profit taking), harus dihitung ke average.
Harga saham bisa terus naik sampai tidak terbatas, bahkan dua tiga kali lipat harga pembelian awalnya. Tidak apa-apa. Selama kamu bisa terus menaikkan level trailing stop ke level yang sesuai, kamu bisa dibilang sudah mengelola saham tersebut dengan baik. Saya selalu menaikkan stop ke breakeven paling lambat ketika harga sudah bergerak searah dengan analisa saya setidaknya separuh dari target.
Kesalahan awal adalah menaikkan stoploss tersebut terlalu awal sehingga kena whipsaw. Hal ini bisa dihindari dengan bersabar hingga harga naik searah dengan analisa kita setidaknya setengah dari target.
Di bagian selanjutnya kita akan bicara beberapa jenis trailing stop yang bukan hanya akan breakeven tapi sudah menghasilkan keuntungan. Tapi sebelum saya masuk ke sana, aturan di bagian ini harus diingat terlebih dahulu:
- Selalu tindak lanjuti sebuah analisa dengan trade. Satu-satunya cara menguji analisa adalah dengan melakukan trade.
- Posisi untung (setidaknya setengah dari target awal), tidak boleh berbalik menjadi rugi, naikkan trailing menjadi breakeven.
- Stop hanya boleh bergerak searah dengan analisa, dan tidak boleh diturunkan lagi setelah dinaikkan.
To be continued...
Seri artikel ini adalah tentang bagaimana memaksimalkan keuntungan yang sudah didapat. Trader yang ingin mendapatkan keuntungan maksimal dari pasar modal bukan hanya perlu mengetahui saham mana yang akan naik harganya, tapi juga memaksimalkan keuntungan dari posisinya yang benar. Seringkali, seorang trader memiliki banyak atau beberapa posisi yang untung, tapi di samping itu, dia juga memiliki banyak posisi yang rugi atau tidak bergerak atau harganya tetap di kisaran yang sempit. Oleh karena itu, ketika posisi suatu saham sudah untung, dengan segera dia menjual saham yang untung tersebut dengan harapan merealisasikan paper profit menjadi profit atau keuntungan. Sementara, untuk saham yang menunjukkan paper loss (unrealized), dia biarkan. Hasilnya? Nyangkut, dan equity terus menurun.
Sebenarnya saya sudah berkali-kali mengingatkan bahwa walaupun pahit, stop loss adalah teman terbaik trader, karena trader bukan investor! Untung atau rugi itu hal biasa dalam bisnis, tapi kalau sampai modal tergerus habis, jadi runyam. Jadi, saya tidak akan membahas hal itu lagi di sini.
Prinsip trading yang saya pegang adalah cut losses short, let profits run. Sekarang saya akan membahas bagian kalimat yang kedua, yaitu bagaimana let profits run, atau memaksimalkan cuan yang kamu bisa dapatkan dari suatu saham.
Banyak tips atau panduan singkat tentang bagaimana cara menangani sebuah posisi ketika sudah mencapai target yang ditentukan, dan beberapa cukup valid, namun dalam artikel ini saya akan mencoba untuk menggali satu tingkat lebih dalam, dan menggabungkan antara literatur dan pengalaman dan memberikan filosofi untuk memaksimalkan keuntungan di saham.
Dari beberapa karakter pasar modal yang saya ketahui, ada satu hal yang menjadi sorotan saya: pasar modal bergerak sesuai trend, dan akan menyentuh rata-rata atau harga wajarnya (fundamental), namun seringkali deviasinya bisa sangat jauh seperti dihubungkan karet gelang yang sangat panjang dan elastis. Pasar modal rentan dengan bubble dan depression. Pada saat pasar sedang mania, maka harga bisa melambung sangat tinggi. Begitu pula, jika pasar sedang depresi, harga bisa jatuh hingga titik yang sangat rendah.
Hal yang paling mudah dikatakan oleh orang awam dalam pasar modal melihat gerakan pasar modal adalah “Buy low, sell high.” John Bollinger mengatakan bahwa low dan high itu relatif. Pengalaman saya juga, sebenarnya taktik buy low dan sell high cuma bisa menguntungkan kalau pasarnya sideways, atau saya betulkan sedikit, buy support, sell resistance. Taktik tersebut bisa saja dilakukan, tapi di pasar trending, taktik tersebut potensi keuntungannya tidak besar. Receh kalau dikumpulkan hasilnya akan besar juga, tapi bukan cara swing ini yang ingin saya bahas sekarang.
Investor saham UNVR sudah melihat unrealized profit lebih dari 2000% (20 kali lipat) dari tahun 2001. Puaskah kamu dengan profit 2%-5% saja, jika profit 20% atau lebih bisa didapatkan dengan sedikit perubahan persepsi? Tergantung pada cara trading masing-masing orang, bisa saja taktik yang saya sampaikan di sini pada awalnya malah memberikan kerugian jika belum terbiasa. Kamu mungkin berpikir: memilih saham yang benar saja sudah cukup sulit, sekarang Bapak bilang, saya tidak boleh segera merealisasikan profit saya??? Bukankah nanti keuntungan saya malah jadi kecil.
Sebaliknya, dengan taktik yang benar, sebenarnya kamu cuma akan rugi dua hal: fee, dan selisih swing yang 2%-5% itu, tapi kamu akan mendapatkan 20%-nya jika saham pilihan kamu benar. Cuma ada satu musuh bebuyutan teknik yang saya sampaikan ini, akan saya sampaikan di bagian akhir nanti.
Teknik yang saya sampaikan ini sifatnya lebih kompleks dari penentuan profit target (PT) dan level stop loss (SL) dari rencana trading yang biasa. Misalnya, yang biasa dilakukan trader melihat sebuah formasi chart adalah beli saham X di 200 dengan target 220 dan stop loss 195, hasilnya reward to risk ratio = 4.
Saya bilang lebih kompleks, dan untuk mencernanya, kamu perlu menguasai terlebih dahulu konsep-konsep trading dasar, dan setidaknya punya pengalaman trading lebih dari satu tahun. Jika tidak, bisa jadi apa yang saya tulis menjadi tidak masuk akal (bagi kamu).
To be continued…
Satu hal yang jelas: sebelum kamu mulai trading, kamu sudah harus mempunyai “edge”. Apa itu edge? Edge itu bisa merupakan pengalaman bertahun-tahun mengamati running trade, sebuah konsep trading yang jelas, filosofi investasi yang mumpuni, atau lebih baik lagi sistem trading yang teruji. Tanpa “edge”, seorang trader cuma akan menjadi makanan trader lainnya yang lebih ganas, lebih berpengalaman, dan lebih “edgy”.
Kemarin di Twitter saya meracau sedikit tentang Blackjack. Banyak yang tidak mengerti apa hubungan antara Blackjack dengan trading. Sama seperti, sedikit yang mengerti mengapa saya mengamati chart sedangkan yang mendrive harga saham seharusnya (secara logika) adalah fundamentalnya. Beberapa analis fundamental punya pikiran lebih terbuka dan mengakui juga kebaikan chart dan memasukkan dalam timing pasarnya.
Persamaan pertama dari Blackjack dan saham adalah tidak semua orang biasa bisa menang dalam permainan ini. Permainan Blackjack peraturannya cukup mudah: setiap orang pada awalnya mendapatkan dua kartu. Pemain punya beberapa pilihan: Hit, Stand, Double, Split. Targetnya adalah jumlah angka di kartunya harus lebih besar dari bandar, namun tidak melebihi 21. Jika dia merasa cukup, maka si pemain boleh “stand”. Jika kartunya lebih dari 21, maka dia “busts” atau hangus.
Sederhana. Dan semua orang biasa akan berpikir bahwa permainan ini cuma berdasarkan peruntungan semata…
Ternyata tidak. Kasino sangat menyukai permainan ini karena dibalik kesederhanaan tersebut, bandar memiliki keuntungan yang cukup besar. Pertama jelas, jika pemain hangus, taruhannya diambil bandar, walaupun bandar sendiri nantinya hangus. Kedua, tidak semua orang bisa bermain Blackjack dengan baik.
Ada beberapa strategi dasar dalam Blackjack: hit 16 melawan 7, split double As, stand sepuluh-sepuluh, double 10 melawan 9 atau kurang, dan seterusnya.
Kamu bisa melihat strategi dasarnya di sini: http://bit.ly/vJ65hM
Walaupun dengan strategi tersebut, bandar tetap mempunyai keuntungan (“advantage”) kurang lebih 0.5%. Tanpa strategi tersebut, bandar advantagenya jauh lebih besar.
Lalu, apa yang bisa dilakukan pemain? Seperti yang dilihat di film-film, ternyata memang ada cara “advanced” untuk bermain Blackjack, seperti hi-lo system, memprediksi as, dan lain sebagainya. Tidak percaya? Coba lihat buku-buku Blackjack di Amazon. Itulah “edge” dalam permainan sederhana seperti Blackjack (cuma mencari 21).
Kembali ke pasar modal…
Pasar modal menarik orang-orang terpintar di planet ini, dan mencoba mencari keuntungan darinya. Banyak cara untuk “memainkan” pasar modal. Ada yang punya “edge” di analisa fundamentalnya yang tokcer. Ada yang pintar membaca psikologi pasar. Ada yang tarikan garisnya pas. Ada yang mencari retracement 50%. Ada yang punya indikator pintar. Ada yang punya robot trading. Ada yang punya pengalaman dua puluh tahun. Ada yang punya ayah di dalam perusahaan publik (“insider” – ilegal tapi ada).
Itulah edge. Edge tidak ada di koran, di berita, tidak ada di blog, tidak ada di facebook/twitter. Edge ada di diri masing-masing trader. Beberapa orang bisa menunggu, manteng berjam-jam di depan monitor menunggu sinyal buy dan sell. Beberapa yang lain punya robot trading. Beberapa bisa menarik kesimpulan dari analisa mata uang, suku bunga, inflasi, dan data ekonomi lainnya. Ya, trader itu berbeda-beda, tapi trader yang baik memang harusnya bisa semuanya.
Perjalanan menjadi trader yang baik itu lama. Tidak ada satu kursus pun yang bisa menggambarkan dunia trading dengan benar. Tidak ada satu seminar yang bisa meng-cover semuanya. Trader yang baik harus terus belajar. Bisa jadi ilmu yang dia punya tidak lagi berlaku di pasar sekarang ini, dan harus di-update.
Perdagangan saham pre-JATS (sebelum 1995) yang manual tentu berbeda dengan post-JATS (2000-an), dimana harga bergerak jauh lebih dinamis. Begitu juga, pergerakan saham per hari ini dengan makin banyaknya trader yang menggunakan online trading berbeda dengan sebelumnya dimana banyak trader yang menggunakan telepon atau datang ke sekuritasnya. Trading di lingkungan tanpa internet, tanpa CNBC juga berbeda dengan dunia sekarang yang semakin terhubung. Setiap investor/trader bisa melihat pergerakan seluruh dunia dalam satu kali lirikan di program tradingnya.
Secara keseluruhan, sekarang pasar bergerak lebih dinamis, lebih volatile, life-cycle dari berita menjadi lebih pendek. Bagaimana trader beradaptasi dengan keseluruhan kondisi inilah yang membuatnya tetap hidup, tetap profitable, dan tetap waras. Sebaliknya, jika trader tidak belajar… well, dia akan bergabung dengan para dinosaurus, punah…
So, what’s your edge?
Kebanyakan orang mencari data secara selektif untuk mendukung argumennya. Mereka mencari “konfirmasi” untuk mendukung apapun argumen atau posisi trading yang sedang mereka pegang, atau yang belum mereka buka. Beberapa orang bahkan diajarkan untuk “menunggu konfirmasi”, yang membuat harga atraktif kadang sudah menghilang. Artikel ini akan menjelaskan secara singkat apa itu confirmation bias, apa bahayanya, dan bagaimana mengatasinya.
Teknologi informasi yang semakin modern membuat dunia semakin terhubung. Kondisi saat ini memungkinkan trader retail, bahkan pemula sekalipun mendapatkan informasi dengan cepat dari mana saja, baik dari forum, facebook, twitter, dll. Beberapa informasi memang berguna, tapi sebenarnya banyak yang cuma merupakan noise, lebih buruk lagi, beberapa penyebar isu ingin membuat kamu membeli saham “pesanan“.
Pertanyaan di atas adalah dari Bimo tanggal 26 Maret 2011 di salah satu komentar. Semua trader harus tahu instrumen trading yang bisa dia gunakan, baik itu saham (stock), option, atau futures. Mungkin Bimo sudah mengetahui tentang Forex, tapi agar lebih lengkap akan saya jelaskan semuanya di artikel ini.






