Skip to content

Posts from the ‘Analisa Teknikal’ Category

Random Walk? Self-Fulfilling Prophecy?

March 3rd, 2012

Dosen Saham

Random Walk Theory dan Self-Fulfiling Prophecy adalah dua hal yang sering dijadikan kritikan pihak akademisi dan non-praktisi kepada analis teknikal atau trader atas tindakannya mencoba “memprediksi” pergerakan harga saham. Di sini saya ingin mencoba sharing pengetahuan saya tentang kedua masalah ini.

Random Walk Theory

Random Walk Theory, atau terjemahan bebasnya Teori Jalan Acak. Bayangkan orang mabuk (atau mikrolet atau bajaj di ibukota, kalau kamu inginkan). Kamu tidak akan bisa menebak dia akan berbelok ke kiri atau ke kanan, atau jalan lurus saja. Atau bahkan berhenti di tengah jalan.  Begitu juga orang lain. Tidak ada yang bisa.  Hanya supirnya dan Tuhan yang tahu.

 

Mikrolet Berbelok: Contoh Nyata Random Walk

Para penganut Random Walk Theory ini (biasanya akademisi) menganggap harga saham itu seperti mikrolet. Kamu tidak akan pernah bisa memperkirakan besok dia akan naik atau turun, dan semua usaha untuk menganalisa jalannya gerakan pasar modal dan harga saham itu percuma, atau tidak ada gunanya.

Dan bukan cuma dia saja, akademisi dan profesor (Ph.D.) seperti Nassim Nicholas Thaleb (penulis buku “The Black Swan” dan “Fooled by Randomness“) juga memiliki argumen tentang randomness atau keacakan. Tapi Thaleb adalah filsuf dengan pemikiran yang luas, sehingga walaupun dia mengkritisi randomness, sasarannya terutama adalah para penjual option. Saya yakin, sebagai trader, saya dan dia kalau ngobrol akan cocok (terutama tentang manajemen resiko).

Kalau menurut saya (dan analis teknikal yang baik tentu akan setuju), gerakan harga saham itu tidak acak. Bisa jadi para akademisi tersebut terlalu mengandalkan model-model komputernya. Mereka lupa, komputer yang paling canggih yang diciptakan oleh Tuhan tetap adalah otak manusia. Akademisi secara teoritis mencoba mensimulasi gerakan pasar modal, dan gagal menemukan suatu formula, suatu alat prediksi yang bisa memprediksi harga, dan menyatakan, “pasar modal merupakan random walk”.

Seorang anak berumur sepuluh tahun yang tidak pernah menyentuh piano, melihat Richard Clayderman memainkan Fur Elise. Tangannya terlihat menari-nari di atas tuts. Dia mungkin menganggapnya sangat sulit sehingga terlihat berjalan sendiri secara acak. Random walk? Komputer tidak bisa membuat nyanyian seperti Adele atau Depapepe. Kita masih membutuhkan penyanyi dan musikus untuk membuat musik.

Bukankah sama saja?  Program yang dia gunakan untuk modelling tidak cukup sensitif atau prosesornya tidak cukup kuat untuk meniru otak manusia.

Self-Fulfilling Prophecy

Ada lagi yang bilang bahwa di pasar modal berlaku Self-Fulfilling Prophecy, atau terjemahan bebasnya, ramalan yang terwujud sendiri. Disebutkanbahwa  karena cukup banyak trader yang melihat formasi harga yang sama, maka akhirnya prediksi para trader tersebut terwujud dengan sendirinya.

Pernyataan ini tidak lengkap. Banyak sekali hal dan intrik di pasar modal, sehingga seringkali harga tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan kebanyakan orang.

Hal ini mengingatkan saya pada “kegilaan” beberapa tahun lalu (mungkin masih ada gaungnya) tentang Law of Attraction, dimana orang yang membawa pengaruh buruk harus “disingkirkan” dari hidupmu, dan kita hanya boleh bergaul dengan orang sukses saja.  Di situ, kita bisa mendapat banyak uang hanya dengan berpikir kita akan mendapat banyak uang.  Hmm… terdengar kekanak-kanakan?  Sebagai placebo karena banyak yang mulai bangkrut di Amerika Serikat (mungkin karena mengikuti Rich Dad), ya, mungkin berguna.  Tapi sebenarnya yang jadi kaya tetap cuma tetap cuma segelintir orang saja, dengan, atau tanpa LoA (salah satunya pembicara dan penulis bukunya). (EN: mohon maaf atas kesinisannya)

Jangan takut, matahari akan tetap ada di pusat tata surya untuk SEMUA orang…

Mengapa pasar modal bukan merupakan Self-Fulfilling Prophecy?  Contoh paling mudah adalah di market bottom atau permulaan wave satu, biasanya banyak sekali analis dan trader, serta masyarakat umum yang masih berpendapat bahwa harga akan terus turun lagi. Jika Self-Fulfilling Prophecy, tentunya harga akan terus turun karena banyak sekali yang memprediksi harga akan terus turun.

Faktanya, ada segelintir pihak yang mengakumulasi di harga murah tersebut. Biasanya pihak-pihak ini adalah minoritas. Ingat Prinsip Pareto.  Sebagian besar uang di dunia… dikuasai oleh segelintir orang saja.

Atau Cramer Bounce, setelah suatu saham “diiklankan” di CNBC oleh Jim Cramer, harga melonjak sesaat.  Tapi setelah itu kembali ke harga semula, di luar perkiraan banyak orang.

Catatan Kaki dari Analis Teknikal

Analis teknikal, yang memantau perkembangan harga saham, mengetahui bahwa harga merupakan gabungan atau akumulasi dari banyak sekali faktor dan pandangan yang mempengaruhi: ketakutan, keserakahan, keinginan, kelicikan, kecurangan, kenaifan, perkiraan pendapatan (earnings estimates), kebutuhan broker untuk komisinya, kebutuhan manajer investasi untuk performa dan keamanan karirnya, permintaan dan penawaran dari saham, likuditas uang (kebijakan moneter) dan arus dari dana (asing/lokal, hot money, dll), tendensi untuk menghancurkan portofolio, kepasifan, jebakan, manipulasi, arogansi, konspirasi, fraud, dan dua muka, fase bulan dan matahari, siklus ekonomi dan pandangan masyarakat mengenainya, mood publik, dan kebutuhan manusia untuk menjadi benar.

Di tangan chartist (sebutan lain untuk analis teknikal) yang berpengalaman, chart (grafik harga) bisa menceritakan banyak hal. Namun, seperti seni lainnya, butuh jam-jam membosankan untuk belajar analisa teknikal. The Beatles telah bermain musik selama 10.000 jam sebelum terkenal. Di Hamburg. Di kafe pelaut yang sangat bising.

Formasi dari gerakan harga adalah “bahasa” dari pasar kepada kita… jika kita mau mendengar bisikannya…

Rahasia Memaksimalkan Cuan (Bagian 3)

February 16th, 2012

Dosen Saham

Sekarang kita bicara tentang keuntungan.  Setelah kamu berhasil menaikkan stop ke level impas, maka sebenarnya risk kamu sudah berkurang sangat banyak sehingga menjadi hampir nol.

Kamu bisa menentukan trailing stop secara subjektif atau objektif.  Paling sederhana adalah jika kamu menentukannya secara subjektif, misalnya jika pasar melawan sebesar 3% atau lebih dari top, saya akan jual.  Tapi pasar sebenarnya tidak peduli dengan pemikiran kamu itu, jadi yang saya gunakan biasanya adalah cara objektif, dan bahkan seringkali sudah di-adjust secara volatilitas (he he…).  Tentu kamu tidak berpikir trailing stop untuk UNVR dan PNLF sama bukan?

Namun sekali lagi, keberhasilan hal ini akan tergantung sekali dengan kondisi market pada saat tertentu dan success rate dari penentuan trend saham yang kamu pilih.  Semakin ahli kamu menganalisa trend (dan lamanya trend itu AKAN berlangsung), semakin baik hasil dari strategi ini.

Trailing stop yang objektif ada beberapa macam:

  1. Last Low
  2. Trendline
  3. Moving Average
  4. Support
  5. Pattern
  6. Parabolic SAR
  7. Chandelier Stop
  8. Volality-adjusted

Makin ke bawah makin rumit.  Saya akan jelaskan satu-satu, dimulai dengan yang paling sederhana (tapi masih efektif).

Last Low

Jesse Livermore pernah bertemu dengan trader yang menggunakan trailing stop yang sangat sederhana ini dengan kesuksesan yang besar.  Saya sendiri juga seringkali menggunakan metode sederhana ini jika beberapa kondisi sudah dipenuhi, misalnya profitnya sudah cukup besar, atau market sedang ada potensi reversal.

Aturannya sangat sederhana: naikkan trailing stop di level low dari pergerakan hari sebelumnya.  Misalkan jika sebuah saham bergerak dibuka di 1750, membuat low di 1700, lalu ditutup di 1800, maka hari berikutnya kamu meletakkan trailing stop di 1700.    Sederhana  bukan?  Aturan ini memastikan jika harga terus naik, maka kamu tidak akan keluar, dan juga trailing ini adalah trailing dengan resiko terkecil, karena resikonya cuma pergerakan satu hari.

Masalahnya, seperti semua stop yang ketat lainnya, dalam kondisi yang salah, trailing stop ini akan sangat rentan dengan whipsaw.  Tapi, untuk belajar trailing stop, silakan coba di chart kamu, jika kamu bersedia mengambil resiko lebih satu hari pergerakan, berapa gain tambahan yang bisa kamu dapatkan?

Contoh aktual ada di Premium Newsletter 13 Februari 2012, dimana ASRI yang dijadikan Trailing di sana.  Hari ini menurut aturan Last Low yang disebutkan disana, ASRI harus dijual karena sudah tembus level low sebelumnya di 580.  Yang harus kamu perhatikan adalah betapa dekatnya trailing tersebut dengan resisten channel dan potensi profitnya sudah maksimal, seperti chart di bawah ini:

To be continued…

Rahasia Memaksimalkan Cuan (Bagian 2)

February 11th, 2012

Dosen Saham

Di dalam setiap pasar selalu ada harga permintaan (bid) dan harga penawaran (offer).  Beberapa buku menyebutkan suatu transaksi (trade) terjadi ketika pembeli yang paling serakah membeli (makan offer), atau penjual yang paling takut menjual (buang bid).  Tapi di pasar sebenarnya, bisa saja bukan hal itu yang terjadi.  Langkah pertama yang perlu dipikirkan adalah mempertimbangkan baik-baik untuk menggunakan market order jika masih masuk akal dibandingkan dengan limit order untuk membeli atau menjual saham, averaging, dan teknik bayangan.

Sebuah analisa bisa saja benar, tapi entry pointnya sudah bergerak naik.  Bullish di sebuah saham, tapi tidak memiliki posisi sama saja tidak mengkapitalisasi analisa yang sudah kamu buat.  Rencana trading adalah 50% dari permainan, tapi 50%-nya lagi adalah improvisasi dan perhitungan cepat reward to risk ratio di pasar yang sedang bergerak.  Hal pertama untuk memaksimalkan cuan adalah untuk selalu bertindak.  Maksud saya begini.  Misalkan kamu menganalisa support sebuah saham Y di 1600, dimana hari sebelumnya sudah menyentuh harga tersebut, tapi hari kamu trading, harga sudah membuat fraktal, sehingga bid yang kamu pasang dari jam 9.50 di 1600 tidak kena (harga bottoming di 1610), sedangkan target kamu di 1900 (20%).  Apa yang kamu lakukan?

Beberapa trader terus menunggu dan akhirnya tertinggal.  Sebuah analisa harus ditindaklanjuti dengan sebuah trade, jadi pastikan saham Y tersebut ada di portofolio, bagaimanapun caranya.  Ya, bahkan jika harganya sudah di 1700, tetap beli di market order pada jam 15.45 (dekat penutupan).  Tapi tentu dengan perhitungan matang.  Jika risk saya sebelumnya cuma 0,5% dari modal, saya tetap akan menjaga risk tidak terlalu jauh dari situ.  Semakin tinggi saya harus membeli, semakin sedikit (secara relatif) jumlah posisi saya.  Averaging posisi (baik beli maupun jual) akan memastikan bahwa sebuah analisa memiliki tindak lanjut.  Langkah pertama adalah tetap menjadi kekuatan positif, yaitu bertindak searah dengan prediksi, beli ketika prediksi naik, jual ketika prediksi turun.  Nanti akan kita bahas teknik bayangan yang bertindak sebaliknya yang akan berguna pada beberapa kasus.

Nah, sekarang saham yang sudah dibeli tersebut sudah naik 10%, misalkan ke level 1840, tapi belum mencapai target 1900 dan terlihat menemukan resisten baru di 1840.  Apa yang kamu lakukan?  Di sinilah kita mengenal trailing stop atau stop yang bergerak.  Kamu tidak perlu langsung menjual jika analisa kamu masih mengatakan saham tersebut masih uptrend, tapi kamu harus menaikkan stoploss ke level break-even (impas) sehingga menjadi trailing stop yang pertama.

Aturan pertama untuk trailing stop adalah stop tersebut harus terus naik dan tidak boleh diturunkan, apapun alasannya.  Misalkan, jika saham kamu beli di 1700, dan stoploss di 1590, setelah naik ke 1840, kamu boleh naikkan ke 1700, sehingga paling buruk, kamu cuma rugi fee atau breakeven.  Dan apapun alasannya, kamu tidak boleh menurunkan stop kamu lagi, walaupun ke 1650.  Sekali stop itu naik, maka harus tetap berada di sana, atau naik (trailing).

Nah, jika kamu sudah menaikkan level stop kamu ke breakeven, kamu memiliki kebebasan yang besar untuk mengelola posisi kamu.  Hal yang paling penting diperhatikan tetap reward to risk ratio.  Kamu harus menghitung harga saham kamu dalam average pembelian, bukan LIFO (Last In First Out) seperti yang saya lihat di banyak trader pemula.  Pokoknya harus average.  Titik.

Reward to risk ratio dihitung dari average tersebut.  Begitu juga untuk memaksimalkan posisi dan jual sebagian posisi untung (profit taking), harus dihitung ke average.

Harga saham bisa terus naik sampai tidak terbatas, bahkan dua tiga kali lipat harga pembelian awalnya.  Tidak apa-apa.  Selama kamu bisa terus menaikkan level trailing stop ke level yang sesuai, kamu bisa dibilang sudah mengelola saham tersebut dengan baik.  Saya selalu menaikkan stop ke breakeven paling lambat ketika harga sudah bergerak searah dengan analisa saya setidaknya separuh dari target.

Kesalahan awal adalah menaikkan stoploss tersebut terlalu awal sehingga kena whipsaw.  Hal ini bisa dihindari dengan bersabar hingga harga naik searah dengan analisa kita setidaknya setengah dari target.

Di bagian selanjutnya kita akan bicara beberapa jenis trailing stop yang bukan hanya akan breakeven tapi sudah menghasilkan keuntungan.  Tapi sebelum saya masuk ke sana, aturan di bagian ini harus diingat terlebih dahulu:

  1. Selalu tindak lanjuti sebuah analisa dengan trade.  Satu-satunya cara menguji analisa adalah dengan melakukan trade.
  2. Posisi untung (setidaknya setengah dari target awal), tidak boleh berbalik menjadi rugi, naikkan trailing menjadi breakeven.
  3. Stop hanya boleh bergerak searah dengan analisa, dan tidak boleh diturunkan lagi setelah dinaikkan.

To be continued...

Rahasia Memaksimalkan Cuan (Bagian 1)

February 4th, 2012

Dosen Saham

Seri artikel ini adalah tentang bagaimana memaksimalkan keuntungan yang sudah didapat.  Trader yang ingin mendapatkan keuntungan maksimal dari pasar modal bukan hanya perlu mengetahui saham mana yang akan naik harganya, tapi juga memaksimalkan keuntungan dari posisinya yang benar.  Seringkali, seorang trader memiliki banyak atau beberapa posisi yang untung, tapi di samping itu, dia juga memiliki banyak posisi yang rugi atau tidak bergerak atau harganya tetap di kisaran yang sempit.  Oleh karena itu, ketika posisi suatu saham sudah untung, dengan segera dia menjual saham yang untung tersebut dengan harapan merealisasikan paper profit menjadi profit atau keuntungan.  Sementara, untuk saham yang menunjukkan paper loss (unrealized), dia biarkan.  Hasilnya?  Nyangkut, dan equity terus menurun.

Sebenarnya saya sudah berkali-kali mengingatkan bahwa walaupun pahit, stop loss adalah teman terbaik trader, karena trader bukan investor!  Untung atau rugi itu hal biasa dalam bisnis, tapi kalau sampai modal tergerus habis, jadi runyam.  Jadi, saya tidak akan membahas hal itu lagi di sini.

Prinsip trading yang saya pegang adalah cut losses short, let profits run.  Sekarang saya akan membahas bagian kalimat yang kedua, yaitu bagaimana let profits run, atau memaksimalkan cuan yang kamu bisa dapatkan dari suatu saham.

Banyak tips atau panduan singkat tentang bagaimana cara menangani sebuah posisi ketika sudah mencapai target yang ditentukan, dan beberapa cukup valid, namun dalam artikel ini saya akan mencoba untuk menggali satu tingkat lebih dalam, dan menggabungkan antara literatur dan pengalaman dan memberikan filosofi untuk memaksimalkan keuntungan di saham.

Dari beberapa karakter pasar modal yang saya ketahui, ada satu hal yang menjadi sorotan saya: pasar modal bergerak sesuai trend, dan akan menyentuh rata-rata atau harga wajarnya (fundamental), namun seringkali deviasinya bisa sangat jauh seperti dihubungkan karet gelang yang sangat panjang dan elastis.  Pasar modal rentan dengan bubble dan depression.  Pada saat pasar sedang mania, maka harga bisa melambung sangat tinggi.  Begitu pula, jika pasar sedang depresi, harga bisa jatuh hingga titik yang sangat rendah.

Hal yang paling mudah dikatakan oleh orang awam dalam pasar modal melihat gerakan pasar modal adalah “Buy low, sell high.”  John Bollinger mengatakan bahwa low dan high itu relatif.  Pengalaman saya juga, sebenarnya taktik buy low dan sell high cuma bisa menguntungkan kalau pasarnya sideways, atau saya betulkan sedikit, buy support, sell resistance.  Taktik tersebut bisa saja dilakukan, tapi di pasar trending, taktik tersebut potensi keuntungannya tidak besar.  Receh kalau dikumpulkan hasilnya akan besar juga, tapi bukan cara swing ini yang ingin saya bahas sekarang.

Investor saham UNVR sudah melihat unrealized profit lebih dari 2000% (20 kali lipat) dari tahun 2001.  Puaskah kamu dengan profit 2%-5% saja, jika profit 20% atau lebih bisa didapatkan dengan sedikit perubahan persepsi?  Tergantung pada cara trading masing-masing orang, bisa saja taktik yang saya sampaikan di sini pada awalnya malah memberikan kerugian jika belum terbiasa.  Kamu mungkin berpikir: memilih saham yang benar saja sudah cukup sulit, sekarang Bapak bilang, saya tidak boleh segera merealisasikan profit saya???  Bukankah nanti keuntungan saya malah jadi kecil.

Sebaliknya, dengan taktik yang benar, sebenarnya kamu cuma akan rugi dua hal: fee, dan selisih swing yang 2%-5% itu, tapi kamu akan mendapatkan 20%-nya jika saham pilihan kamu benar.  Cuma ada satu musuh bebuyutan teknik yang saya sampaikan ini, akan saya sampaikan di bagian akhir nanti.

Teknik yang saya sampaikan ini sifatnya lebih kompleks dari penentuan profit target (PT) dan level stop loss (SL) dari rencana trading yang biasa.  Misalnya, yang biasa dilakukan trader melihat sebuah formasi chart adalah beli saham X di 200 dengan target 220 dan stop loss 195, hasilnya reward to risk ratio = 4.

Saya bilang lebih kompleks, dan untuk mencernanya, kamu perlu menguasai terlebih dahulu konsep-konsep trading dasar, dan setidaknya punya pengalaman trading lebih dari satu tahun.  Jika tidak, bisa jadi apa yang saya tulis menjadi tidak masuk akal (bagi kamu).

To be continued…

Fibonacci Retracement

May 30th, 2010

Dosen Saham

Fibonacci Retracement adalah indikator kelas mahir.  Anda boleh bilang ini indikator paling absurd karena cuma menggunakan kombinasi angka-angka.  Tapi, kami bisa buktikan sebaliknya. :)

Read more