Random Walk Theory dan Self-Fulfiling Prophecy adalah dua hal yang sering dijadikan kritikan pihak akademisi dan non-praktisi kepada analis teknikal atau trader atas tindakannya mencoba “memprediksi” pergerakan harga saham. Di sini saya ingin mencoba sharing pengetahuan saya tentang kedua masalah ini.
Random Walk Theory
Random Walk Theory, atau terjemahan bebasnya Teori Jalan Acak. Bayangkan orang mabuk (atau mikrolet atau bajaj di ibukota, kalau kamu inginkan). Kamu tidak akan bisa menebak dia akan berbelok ke kiri atau ke kanan, atau jalan lurus saja. Atau bahkan berhenti di tengah jalan. Begitu juga orang lain. Tidak ada yang bisa. Hanya supirnya dan Tuhan yang tahu.
Mikrolet Berbelok: Contoh Nyata Random Walk
Para penganut Random Walk Theory ini (biasanya akademisi) menganggap harga saham itu seperti mikrolet. Kamu tidak akan pernah bisa memperkirakan besok dia akan naik atau turun, dan semua usaha untuk menganalisa jalannya gerakan pasar modal dan harga saham itu percuma, atau tidak ada gunanya.
Dan bukan cuma dia saja, akademisi dan profesor (Ph.D.) seperti Nassim Nicholas Thaleb (penulis buku “The Black Swan” dan “Fooled by Randomness“) juga memiliki argumen tentang randomness atau keacakan. Tapi Thaleb adalah filsuf dengan pemikiran yang luas, sehingga walaupun dia mengkritisi randomness, sasarannya terutama adalah para penjual option. Saya yakin, sebagai trader, saya dan dia kalau ngobrol akan cocok (terutama tentang manajemen resiko).
Kalau menurut saya (dan analis teknikal yang baik tentu akan setuju), gerakan harga saham itu tidak acak. Bisa jadi para akademisi tersebut terlalu mengandalkan model-model komputernya. Mereka lupa, komputer yang paling canggih yang diciptakan oleh Tuhan tetap adalah otak manusia. Akademisi secara teoritis mencoba mensimulasi gerakan pasar modal, dan gagal menemukan suatu formula, suatu alat prediksi yang bisa memprediksi harga, dan menyatakan, “pasar modal merupakan random walk”.
Seorang anak berumur sepuluh tahun yang tidak pernah menyentuh piano, melihat Richard Clayderman memainkan Fur Elise. Tangannya terlihat menari-nari di atas tuts. Dia mungkin menganggapnya sangat sulit sehingga terlihat berjalan sendiri secara acak. Random walk? Komputer tidak bisa membuat nyanyian seperti Adele atau Depapepe. Kita masih membutuhkan penyanyi dan musikus untuk membuat musik.
Bukankah sama saja? Program yang dia gunakan untuk modelling tidak cukup sensitif atau prosesornya tidak cukup kuat untuk meniru otak manusia.
Self-Fulfilling Prophecy
Ada lagi yang bilang bahwa di pasar modal berlaku Self-Fulfilling Prophecy, atau terjemahan bebasnya, ramalan yang terwujud sendiri. Disebutkanbahwa karena cukup banyak trader yang melihat formasi harga yang sama, maka akhirnya prediksi para trader tersebut terwujud dengan sendirinya.
Pernyataan ini tidak lengkap. Banyak sekali hal dan intrik di pasar modal, sehingga seringkali harga tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan kebanyakan orang.
Hal ini mengingatkan saya pada “kegilaan” beberapa tahun lalu (mungkin masih ada gaungnya) tentang Law of Attraction, dimana orang yang membawa pengaruh buruk harus “disingkirkan” dari hidupmu, dan kita hanya boleh bergaul dengan orang sukses saja. Di situ, kita bisa mendapat banyak uang hanya dengan berpikir kita akan mendapat banyak uang. Hmm… terdengar kekanak-kanakan? Sebagai placebo karena banyak yang mulai bangkrut di Amerika Serikat (mungkin karena mengikuti Rich Dad), ya, mungkin berguna. Tapi sebenarnya yang jadi kaya tetap cuma tetap cuma segelintir orang saja, dengan, atau tanpa LoA (salah satunya pembicara dan penulis bukunya). (EN: mohon maaf atas kesinisannya)
Jangan takut, matahari akan tetap ada di pusat tata surya untuk SEMUA orang…
Mengapa pasar modal bukan merupakan Self-Fulfilling Prophecy? Contoh paling mudah adalah di market bottom atau permulaan wave satu, biasanya banyak sekali analis dan trader, serta masyarakat umum yang masih berpendapat bahwa harga akan terus turun lagi. Jika Self-Fulfilling Prophecy, tentunya harga akan terus turun karena banyak sekali yang memprediksi harga akan terus turun.
Faktanya, ada segelintir pihak yang mengakumulasi di harga murah tersebut. Biasanya pihak-pihak ini adalah minoritas. Ingat Prinsip Pareto. Sebagian besar uang di dunia… dikuasai oleh segelintir orang saja.
Atau Cramer Bounce, setelah suatu saham “diiklankan” di CNBC oleh Jim Cramer, harga melonjak sesaat. Tapi setelah itu kembali ke harga semula, di luar perkiraan banyak orang.
Catatan Kaki dari Analis Teknikal
Analis teknikal, yang memantau perkembangan harga saham, mengetahui bahwa harga merupakan gabungan atau akumulasi dari banyak sekali faktor dan pandangan yang mempengaruhi: ketakutan, keserakahan, keinginan, kelicikan, kecurangan, kenaifan, perkiraan pendapatan (earnings estimates), kebutuhan broker untuk komisinya, kebutuhan manajer investasi untuk performa dan keamanan karirnya, permintaan dan penawaran dari saham, likuditas uang (kebijakan moneter) dan arus dari dana (asing/lokal, hot money, dll), tendensi untuk menghancurkan portofolio, kepasifan, jebakan, manipulasi, arogansi, konspirasi, fraud, dan dua muka, fase bulan dan matahari, siklus ekonomi dan pandangan masyarakat mengenainya, mood publik, dan kebutuhan manusia untuk menjadi benar.
Di tangan chartist (sebutan lain untuk analis teknikal) yang berpengalaman, chart (grafik harga) bisa menceritakan banyak hal. Namun, seperti seni lainnya, butuh jam-jam membosankan untuk belajar analisa teknikal. The Beatles telah bermain musik selama 10.000 jam sebelum terkenal. Di Hamburg. Di kafe pelaut yang sangat bising.
Formasi dari gerakan harga adalah “bahasa” dari pasar kepada kita… jika kita mau mendengar bisikannya…
Merasa galau? Semua orang pernah mengalaminya. Merasa bingung akan gerakan pasar berikutnya. Kalau beli harga malah turun, dan ketika jual harga malah meroket naik. Semua orang pernah mengalaminya. Namun, bisakah kita tetap mantap di tengah kegalauan pasar modal?
Sebentar, sebelum Anda terjun dan mulai trading saham, baca dulu artikel ini. Semoga bisa membantu.
Selain “percaya analisa sendiri” yang merupakan modal dasar trader, mungkin Anda akan menemukan lima tips trading di bawah ini berguna. Ditulis dari pengalaman kami bertahun-tahun di pasar modal.
Read more
Kita sudah selesai yah bahas bahwa memang Anda harus selalu mandiri dan tidak menunggu rekomendasi dari siapapun. Sekarang kita bahas apakah main saham itu perlu keahlian atau cuma perlu keberuntungan. Apakah orang-orang paling sukses di pasar modal memang ahli dalam bidangnya (membaca chart atau membaca fundamental), atau cuma beruntung?
“The average man doesn’t wish to be told that it is a bull or a bear market. What he desires is to be told specifically which particular stock to buy or sell. He wants to get something for nothing. He does not wish to work. He doesn’t even wish to have to think.”
- Jesse Livermore
“It was the change in my own attitude toward the game that was of supreme importance to me. It taught me, little by little, the essential difference between betting on fluctuations and anticipating inevitable advances and declines, between gambling and speculating. I think it was a long step forward in my trading education when I realized at last that when old Mr. Partridge kept on telling the other customers, “Well, you know this is a bull market!” he really meant to tell them that the big money was not in the individual fluctuations but in the main movements that is, not in reading the tape but in sizing up the entire market and its trend. And right here let me say one thing: After spending many years in Wall Street and after making and losing millions of dollars I want to tell you this: It never was my thinking that made the big money for me. It always was my sitting. Got that? My sitting tight! It is no trick at all to be right on the market. You always find lots of early bulls in bull markets and early bears in bear markets. I’ve known many men who were right at exactly the right time, and began buying or selling stocks when prices were at the very level which should show the greatest profit. And their experience invariably matched mine that is, they made no real money out of it. Men who can both be right and sit tight are uncommon. I found it one of the hardest things to learn. But it is only after a stock operator has firmly grasped this that he can make big money. It is literally true that millions come easier to a trader after he knows how to trade than hundreds did in the days of his ignorance.”
- Jesse Livermore, 1923.
Halo! Kami tahu, belum saatnya bicara hal ini, karena di masa bullish ini, even monkey can make money. (monyet pun bisa untung). Tapi mau bagaimanapun juga, ini satu keahlian yang perlu Anda kuasai sebagai trader, yaitu keahlian cut loss.
Dividen adalah bagian keuntungan dari perusahaan yang dibagikan secara langsung kepada investor, biasanya dalam bentuk uang tunai, namun bisa juga berupa saham.
Rumor adalah cerita yang menarik. Membosankan memang jika cuma berbicara saham melulu melalui chart dan banyak orang (termasuk istri saya) yang hanya akan melongo jika ditunjukkan chart dan indikator-indikatornya. Tapi kalau ada rumor, maka lebih mudah baginya mengambil posisi di salah satu saham.





