Sabtu lalu di koran saya membaca sebuah kolom kecil tentang Kodawari. Kodawari adalah kata yang digunakan orang Jepang untuk menggambarkan fokus, obsesi, keuletan, kegigihan, dan kesungguhan mutlak dalam mengerjakan hal-hal paling remeh sekalipun. Dengan kodawari, tidak ada satu langkah pun yang tidak penting. Melalui kodawari, setiap aktivitas punya makna yang sangat berpengaruh dalam suatu rangkaian proses. Berapa detik soba (mie jepang) harus direbus? Pada temperatur berapa derajat celcius? Apa ukuran ideal sushi atau sashimi sehingga dapat dilahap sekaligus? Bagaimana penyajian yang mengundang selera, tapi tidak berlebihan? Secara mudah mungkin bisa disimpulkan kalau kodawari adalah niatan dalam setiap aksi. Pemahaman ini jadi membuat saya bertanya-tanya apakah setiap aktivitas yang saya lakukan sudah dilandasi oleh niatan yang tepat, sahih, dan relevan?
The difference between ordinary and extraordinary is just that little extra. Banyak cerita sukses sudah diperdengarkan, tetapi yang sering terlupakan adalah langkah-langkah kecil penuh niatan yang merangkai setiap kisah sukses tersebut.
Practice does not make perfect – perfect practice make perfect. Sebagai sebuah seni, analisa teknikal membutuhkan keahlian dari praktisinya untuk bisa berjalan dengan baik dan menghasilkan keuntungan. Ingat, keuntungan adalah hasil akhir. Bisa saja hanya dengan keberuntungan (blind luck) keuntungan didapat, tapi jika ingin return yang benar-benar konsisten, maka seorang praktisi juga harus benar-benar belajar dengan serius tentang dasar-dasar analisa teknikal dan memahami pasar melalui sumber-sumber yang terpercaya dan latihan yang sering dan terarah, dilandasi dengan niatan yang benar.
Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari kebiasaan. Kabar baiknya, perubahan sedikit pada kebiasaan bisa jadi penentu arah hidup seseorang. Kabar buruknya, sebagian besar kebiasaan dilakukan dengan niat salah atau lebih buruk lagi, tanpa niat sama sekali. Apakah ada kebiasaan buruk yang hendak kamu hilangkan? Apakah ada kebiasaan baru yang ingin kamu lazimkan? Kodawari! Pastikan dulu untuk diniatkan sebelum mulai melakoninya dan setelah itu, jalankan setiap langkah dengan penuh niat. Pastikan setiap tarikan garis, setiap tindakan, beli atau jual, dilakukan dengan penuh niat. Hilangkanlah kebiasaan menahan saham yang sedang turun atau mencoba menangkap pisau jatuh, atau mencari rekomendasi. Mulailah melakukan analisa sendiri, mengakumulasi keuntungan saham yang terus naik, dan rajin sharing dan bersedekah.
Cobalah dan rasakan bedanya. (@pojoksaham)
Pada suatu hari ada dua orang biksu melihat sebuah bendera yang berkibar.
Biksu yang pertama bilang, “Bendera yang bergerak.”
Biksu yang kedua bilang, “Angin yang bergerak.”
Mereka berdebat lama mengenai hal ini, tapi sama-sama tidak setuju.
Huineng, Patriach keenam, datang dan berkata, “Tuan-tuan, bukan bendera maupun angin yang bergerak. Pikiranmulah yang bergerak.” Dan mereka berdua pun terpana.
Cerita Zen di atas adalah ilustrasi bagus mengenai apa yang terjadi di pasar modal sekarang ini, terutama perdebatan antara kubu-kubu ahli di bidangnya masing-masing. Saya ambil satu contoh, jika kaum fundamental dan teknikal berdebat.
Kaum fundamental berkata, “Kondisi keuangan perusahaan akan menyetir harga.” atau “Perusahaan (bendera) yang bergerak.”
Kaum teknikal berkata, “Pergerakan harga akan berada di depan pergerakan fundamental.” atau “Trend (angin) yang bergerak.”
Keduanya akan berdebat lama dan masing-masing akan menunjukkan argumen yang valid, dan bisa menyerang dasar teori masing-masing kubu yang berlawanan.
Kaum fundamental akan menyamakan kaum teknikal dengan astrologi. Tidak ada dasar scientific-nya! Jika kamu bisa percaya bahwa pergerakan bintang-bintang dan bulan (dan Libra akan mendapatkan keuntungan hari ini), kamu bisa percaya chart. (dan…ternyata ada lho yang menggabungkan teknikal dan astrologi…ternyata. *sigh*)
Kaum teknikal menganggap kaum fundamental sebagai “paralysis by analysis“. Terlalu banyak menganalisa sehingga aksinya selalu terlambat, atau bahkan tidak bisa bergerak sama sekali alias paralisis.
Kira-kira apa yang akan dikatakan Zen Master kepada mereka berdua ya?






