Skip to content

7 Mitos di Pasar Modal

Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia terlihat *agak* primitif jika dibandingkan dengan masyarakat di negara maju, contohnya di Amerika, atau bahkan Singapura, negara tetangga kita.  Sisi baiknya, masyarakat Indonesia lebih ramah, punya semangat gotong royong dan kekeluargaan, tidak terlalu egois dan tidak terlalu individual.  Sisi buruknya, masyarakat Indonesia masih banyak yang dipengaruhi hal-hal yang berbau klenik atau mitos, bahkan di pasar modal modern sekalipun!

Saya akan mencoba mendaftar mitos-mitos yang saya temui ketika saya berbicara dengan masyarakat awam tentang pasar modal.

Mari kita mulai…

 

1.  Beli saham itu sulit, rumit, dan mahal.

Ini sering saya dengar dari ibu-ibu yang sudah terlalu sibuk mengurusi rumah tangga dan anaknya sehingga tidak punya waktu untuk mengurusi yang lain.  Mungkin dulu, iya beli saham itu rumit.  Sepuluh tahun yang lalu, sekuritas masih mensyaratkan modal minimum Rp50 juta, dan tentu saja cabangnya cuma di tempat-tempat tertentu saja.  Anda pun harus datang ke sekuritas untuk bisa bertransaksi saham.  Bahkan, masih ada floor trader di bursa yang akan membeli dan menjual saham secara manual dengan kertas-kertas.

Tapi sekarang, Bu, beli saham itu semudah membuka rekening bank di bank favorit Ibu.  Hanya saja, selain bank, kali ini Ibu harus mengunjungi sebuah sekuritas.  Sekuritas adalah perantara perdagangan (efek) di bursa saham.  Dia yang akan menangani semua urusan administratif dan penyimpanan saham sehingga Ibu bisa membeli saham dan tidur nyenyak tanpa diganggu.

Jadi, mitos ini salah, dan harusnya diubah menjadi, beli saham semudah membuka rekening di bank.  Oh ya, setoran awal sekarang di sekuritas mulai dari Rp100.000,- jadi benar-benar sama dengan di bank.

 

2.  Saham itu barang berbahaya.

Inilah horor yang sering diceritakan orang kepada saya.  Misalnya dia punya teman yang temannya bunuh diri karena sahamnya jatuh.  Atau ada dirut perusahaan terbuka yang gantung diri karena sahamnya jatuh, dan seterusnya.  Atau, ada suami temannya yang terjerat hutang karena main saham.  Betul bahwa saham itu mengandung resiko, tapi itu bukan alasan untuk tidak berinvestasi di saham.  Ibu (amit-amit) beresiko untuk tertabrak mobil jika menyeberang jalan, tapi jika Ibu ingin membeli susu anak di seberang jalan, maka Ibu akan tetap menyebrang, paling lihat kiri-kanan dulu.  Nah, kenapa saham tidak diperlakukan sama?

Saham mengandung resiko, tapi sangat bisa dicegah atau dikendalikan dengan teknik-teknik tertentu.

 

3.  Perusahaan terbuka mencatatkan sahamnya yang buruk

Saya juga diceritakan tentang bagaimana seorang dirut perusahaan mempreteli perusahaannya sebelum menjual saham di pasar modal untuk mendapatkan dana segar, lalu sahamnya dibiarkan terlantar.  Well, saya juga tahu bahwa Unilever ada di Bursa Efek Indonesia (BEI), Indofood ada di sana, Bank BCA ada di sana, United Tractors ada di sana, dan masih banyak lagi super company atau perusahaan super di pasar modal.  Sama seperti waktu Ibu memilih suami, di sana ada pria yang hidung belang, ada yang punya kepribadian jelek, ada yang suka gonta-ganti pacar, ada yang miskin, dsb, tapi ada juga pria yang sekarang menjadi suami Ibu yang setia, sabar, pengertian, setia, dan kaya.

Saham juga begitu.  Ada saham bagus, ada saham jelek.  Tinggal bagaimana memilihnya.

 

4.  Nanti saya akan terus terpaku di depan monitor

Mungkin di antara Ibu ada yang sudah pernah melihat seorang trader “bekerja” di depan monitor komputer, dan Anda berpikir, jika Anda mulai trading, maka Anda akan terus terpaku di depan monitor untuk memantau perkembangan harga detik demi detik.  Ini jauh sekali dari kebenaran mutlak karena saya tidak merekomendasikan Anda untuk menatap real time running trade tersebut.  Hanya ada dua jenis trader yang melakukan hal itu, yaitu daytrader dan scalper, dan keduanya adalah profesi yang berbahaya…

Tergantung dengan jenis sistem trading yang digunakan, trading saham bisa dilakukan hanya dengan 10 menit per hari, atau sekitar 1 jam per minggu.  Atau bahkan bisa juga setengah jam per minggu.

 

5.  Tidak bisa sukses tanpa koneksi dan sumber info dari dalam

Ibu tahu bahwa di semua pasar modal, insider trading atau trading berdasarkan info dari dalam adalah ilegal.  Walaupun begitu, masih banyak trader lokal yang mencoba mencari info tersebut dari sumber-sumber yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya.  Biasanya broker saham akan menawarkan info-info gratis seperti ini.  Tapi sebenarnya info ini bagi saya adalah tidak berguna.

Setelah trading bertahun-tahun tanpa info seperti ini, saya bisa bilang bahwa Anda tidak harus punya koneksi untuk bisa trading.

 

6.  Main saham adalah cara cepat jadi kaya!

Main saham memang merupakan cara yang paling cepat untuk mengembangkan modal Anda, tapi bukan jalan pintas atau shortcut.  Tingkat kekayaan Anda akan ditentukan pertama oleh jumlah modal yang Anda bawa, kapan Anda memulainya, jangka waktu investasi, dan tingkat pengembalian atau return yang bisa Anda hasilkan.  Jika modal Rp100 juta, dan tingkat return Anda 5% per bulan, Anda dalam posisi untuk menggandakan uang Anda setiap dua tahun, dan compounded return (atau biasa disebut bunga berbunga) inilah yang akan membuat Anda kaya dalam jangka waktu yang cukup panjang.

 

7.  Main saham adalah seperti judi.

Trading saham bukan judi.  Ini bisa saya pastikan.  Dalam judi, Anda berada dalam lingkungan dimana Anda tidak akan menang.  Di dalam trading, sebanarnya Anda selayaknya berdagang, tapi tanpa inventori yang harus diurus melainkan portfolio.  Saham bagi saya lebih seperti bisnis daripada meja kasino.  Tapi tentu, semua itu tergantung kepada siapa Anda bertanya…  ada saja trader yang memperlakukan pasar modal sebagai judi, tapi kan Anda tidak perlu mengikutinya.

 

Sementara itu dulu.  Nanti saya tambahkan, atau jika Anda punya mitos lain, bisa mention melalui twitter saya @pojoksaham.