Skip to content

Stock Market Roller Coaster (3D)

June 12th, 2013

Dosen Saham

Trading for A Living

June 1st, 2013

Kokolato

Ketika orang mendengar kata trading for a living, banyak yang langsung mengasumsikan bahwa pasti dia adalah seorang full time trader, tidak punya pekerjaan lain selain trading. Saat ini menurut pengamatan saya memang terdapat kerancuan pengertian antara trading for a living dengan full time trader, meski secara kata per kata sebenarnya pengertiannya sudah berbeda.

Apa sebenarnya Trading For A Living?

Saya pribadi selalu mengartikan bahwa trading for a living bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan kita sekarang, bukan berarti bahwa kita harus menjadi full time trader. Bagi saya, dengan bahasa Inggris yang seadanya mengartikan bahwa trading for a living adalah ketika kita memperlakukan trading kita secara serius sehingga hasil trading kita mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, bahwa kita serius berusaha untuk membuat uang yang kita investasikan di trading mampu bekerja sendiri buat kita tanpa harus kita awasi detik demi detik dan tanpa harus kita meninggalkan apapun pekerjaan kita saat ini.

Read more

Stock Market Roller Coaster

June 1st, 2013

Dosen Saham

The Signal and The Noise

March 10th, 2013

Dosen Saham

DP182

Di dalam trading (terutama di dalam trading), tindakan beli/jual saham kita sangat bergantung pada sinyal yang ditunjukkan oleh chart kepada kita.  Sedangkan di pasar (selayaknya dalam pasar), banyak sekali “noise” atau keributan, yang kalau saya daftarkan terdiri dari satu atau lain hal berikut ini:

  1. Stock pick di facebook, twitter, blog, miliis.
  2. “Marketing Campaign” di running trade.
  3. Chatroom.
  4. Berita di koran, website, CNBC.
  5. Bisikan teman, broker.
  6. False breakout, false breakdown.

Mungkin ada yang lain, silakan ditambahkan saja sendiri.  Tapi intinya, banyak sekali gangguan/keributan di pasar modal.  Kalau di Zen, ada ungkapan: “Cobalah bersemedi di dalam pasar.”  Sama saja: cobalah berpikir rasional di dalam pasar.

Jangan dicoba.  Tidak akan bisa.

Selama lebih dari sepuluh tahun saya memperhatikan pasar, dan orang-orang yang berkecimpung di dalamnya.  Orang-orang yang paling untung adalah orang-orang yang “memanfaatkan” pasar, dan bukan bergabung dengan kegilaan di dalamnya.  Mereka bisa membedakan sinyal dan noise.  Noise tidak bisa mematahkan sinyal dan mereka akan berpegang teguh pada stockpick yang mereka buat sendiri, atau berasal dari sumber yang sangat terpercaya, atau walaupun mereka “tercebur”, mereka tidak terhanyut, karena sudah belajar cara berenang dengan baik, sampai bisa membedakan sinyal itu sendiri.

Apa saja sinyal itu?  Bisa jadi salah satu dari hal-hal berikut ini:

  1. Nilai wajar (Fair Value) dari saham tersebut.  Buy undervalued stocks.
  2. Trend.
  3. Breakout (resistance, Bollinger Band, Flag, etc).
  4. Support dan resistance.
  5. Volume dan net buy asing.
  6. Volatilitas.

Masih banyak lagi yang lain.  Setiap orang mungkin bisa melihat hal yang berbeda.  Tapi karena pasar demokratis, selama dia bisa profit from the market, bagi saya itu adalah hal yang sah-sah saja.  Sekarang, bagaimana cara membedakan sinyal dan noise tersebut?  Latihan, latihan, latihan.  Kamu tidak akan bisa menyetir di jalan raya kalau tidak diajarkan artinya lampu hijau-kuning-merah dan rambu-rambu lalu lintas.  Kembali ke Zen, kamu tidak akan bisa bermeditasi kalau tidak ada yang mengajarkan terlebih dahulu.

Trader yang baik tidak pernah berhenti belajar.  Pengalaman adalah guru paling mahal.  Orang pintar bisa belajar dari pengalaman orang lain.

(Bergabunglah dengan komunitas trading – email ke join@pojoksaham.com)

SDSB ala Bursa Efek

March 8th, 2013

Dosen Saham

sdsb

Masih ingat dulu di Indonesia, ada kupon-kupon yang namanya SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah).  Harga per kuponnya Rp5000 dengan hadiah Rp1 Milyar.  Jadi, semua orang Indonesia bisa main “Who Wants To Be A Millionaire” dengan 5000 perak.  Eh, tunggu dulu.  Rp5000 perak itu besar lho waktu itu, karena bisa beli 25 mangkok bakso di lagu “Abang Tukang Baso”-nya Melissa.

Sekarang, saya masih melihat ada beberapa investor yang mindset-nya hampir sama.  Beli saham seperti kupon tersebut.  Jadi, beli dan dibiarkan sampai untung/rugi besar.  Apakah ini masuk akal?  Ayo kita pikirkan sama-sama.

Misalkan ada yang mengusulkan untuk beli 100 saham penny stock dan ditunggu sepuluh tahun.  99 ternyata rugi dan nyangkut di harga Rp50 dan tidak bisa dijual lagi!  Satu naik 4500% seperti LPCK.  Berarti setelah sepuluh tahun, uang Rp10 juta menjadi Rp4,5jt ditambah 99 saham nyangkut.

Mungkin kamu tidak se-ekstrim itu, tapi jumlahnya bisa saja cuma 20-30 saham, tapi campur-campur dan konsepnya seperti “Supermarket Saham”, dimana semua saham gorengan ada di situ.  Wkwkwkwk.

Bandingkan dengan reksadana yang mulai dari Rp1000.  Karena manajer investasinya profesional, dia sudah menghitung dulu fundamental perusahaan, sehingga dalam kurun waktu yang sama Rp1000 bisa menjadi Rp50.000 atau lebih, dengan kata lain Rp10 juta bisa menjadi Rp500 juta.  Memang belum Rp1 milyar sih, tapi kalau strateginya DCA (Dollar Cost Averaging), malah mungkin dengan “cuma” menyisihkan Rp600 ribu per bulan (Rp20.000 per hari/4 kupon SDSB), tapi dengan konsisten, bisa jadi hasilnya sudah lebih dari Rp 1 Milyar.

Ada yang tertarik mencobanya?