Skip to content

Yeee-haw!!

March 4th, 2013

Dosen Saham

bull-riding

Selamat pagi.  Akhir-akhir ini tampaknya matahari bersinar lebih cerah, burung-burung bersiul lebih merdu, dan beban di pundak terasa sangat ringan.  (posisi IHSG new high 4811)

Kalau si banteng sedang menerjang dengan kuatnya, tampaknya segala berita buruk tidak ada yang menjadi kekhawatiran investor.  Saham-saham tetap diburu oleh asing, dan trader domestik yang sudah kebelet ke WC (baca: Wave C) juga mungkin akan merevisi target di masa bullish yang sangat panjang ini.

Ada kearifan penting dari trader sukses jaman dulu:  “Ride the trend until the end.”  Tunggangi trend sampe berakhir.  Yeee-haw!!

Money Management

January 15th, 2013

Dosen Saham

Ada kalanya seseorang yang telah menguasai disiplin dan teknik trading menggunakan chart (analisa teknikal), dan money management yang basic, menemukan sebuah “langit-langit” yang sulit ditembus, yaitu return per bulan yang “kurang” besar.  Bukan karena pembawaan, bukan karena trailing stop, tapi lebih karena position sizing yang kelewat konservatif.  Seri artikel ini akan mengupas beberapa teknik money management yang umum digunakan pada position sizing trading, dan beberapa juga saya gunakan dalam trading saya.  Tujuan saya menulis adalah untuk berpikir.  Saya sedang berpikir: bagaimana cara mendapatkan ukuran yang lebih optimal dalam money management untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Bergabunglah dengan diskusi ini via Twitter: @pojoksaham

Kita mulai saja dengan mengenal terlebih dahulu, apa itu money management.

Money Management adalah sebuah konsep yang defensif.  Artinya money management ada di sana untuk melindungi modal trader dari kemungkinan wipeout atau habis seketika.  Ketika trader newbie atau pemula sedang belajar, money management ini mutlak ada agar dia bisa memiliki waktu belajar dan modalnya tidak habis.  Jika kamu mengikuti money management yang konservatif, maka modal kamu tidak mungkin akan habis dalam waktu singkat, dan kamu akan bisa menguasai satu atau dua hal.

Money Management juga adalah konsep pengelolaan resiko.  Pasar modal yang volatile tidak bisa ditebak, tapi kamu bisa mengukur resiko sebuah posisi yang kamu ambil dengan konsep money management.  Misalkan modal kamu Rp100jt.  Setiap posisi kamu memiliki resiko 1jt (1%) dan kamu punya lima posisi seperti itu, maka total resiko kamu (“heat”) adalah 5%.  Portofolio yang “cool” adalah portofolio yang konservatif dengan hasil yang juga konservatif.

Money Management digunakan untuk optimalisasi penggunaan modal.  Pernahkah kamu memiliki 70% idle cash pada saat pasar sedang bullish?  Berarti penggunaan modal belum optimal.  Heat dari portofolio mungkin terlalu “adem” karena mengejar volatilitas yang rendah, padahal di luar sana sedang banyak kesempatan…

Sekarang, kamu tidak akan bisa mengukur dengan tepat peluang sebuah posisi akan menghasilkan keuntungan, karena jika bisa maka pertanyaan ini tidak akan muncul.  Kamu juga bergelut dengan pasar yang asimetris yang bisa memberikan keuntungan besar dan kerugian besar dalam saat tertentu.  Jadi, backtesting sebenarnya tidak berguna.  Apa yang bisa dilakukan?

Kebanyakan trader menemukan keseimbangan dari dua hal:  karakter, dan trial and error.  Trader dengan karakter agresif akan cenderung lebih berani menempatkan modalnya.   Ketika dia untung, dia untung besar, dan ketika rugi, dia rugi besar.  Trader dengan karakter konservatif cenderung lebih terukur.  Ketika untung, dia tidak untung besar, tapi ruginya juga kecil-kecil.  Keduanya dari pengalaman bisa menemukan “keseimbangan” dari cara tradingnya, dibuktikan dengan keuntungan konsisten yang dia hasilkan setiap bulannya dengan drawdown atau volatilitas portofolio yang bisa dia terima.

Aturan 2% dan 6%

Two percent and six percent rule diperkenalkan oleh Dr. Alexander Elder dan bisa menjadi awal yang baik untuk belajar money management.  Dalam aturan 2%, sebuah posisi tidak boleh memiliki resiko lebih dari 2% dari total ekuitas.  Dalam aturan 6%, total dari resiko seluruh posisi tidak boleh lebih dari 6% dari total ekuitas.  Jika saya nilai, aturan ini adalah termasuk konservatif.

Contoh penerapannya sebagai berikut:  misalkan modal kamu Rp100jt.  Jika kamu membeli saham A dengan nilai Rp10jt, resiko saham A, yaitu jarak dari harga beli ke stoploss tidak boleh lebih dari Rp2jt (2%).  Dan sebelum saham A bisa kamu pindahkan ke breakeven, kamu terbatas membeli tiga macam saham saja dengan resiko masing-masing 2% (= total 6%).  Misalkan pasar crash, maka kamu cuma kena resiko 6% itu, tidak lebih.  Setelah 6% kena, maka kamu harus libur trading selama satu bulan.

Apakah aturan ini berguna?  Ya, tentu saja.  Aturan ini sangat berguna, karena menjaga kamu dari mengambil pilihan bodoh, dan crash.  Tapi aturan ini, karena basic juga memiliki kekurangan…

Apa saja kekurangannya, nanti kita lanjutkan.

25 Aturan Trader Sukses

November 4th, 2012

Dosen Saham

twenty five

“Practice does not make perfect. Only perfect practice makes perfect.”

~Vince Lombardi

Semua trader sukses itu sama; tapi setiap trader yang gagal mempunyai masalahnya masing-masing.  Apa kunci trader sukses?  Semua trader sukses akan menjawab…”disiplin”.  Setiap trader sukses punya aturan, dan pasar akan memberikan apresiasi berupa profit kepada trader yang dapat mengikuti aturannya sendiri.

Sepanjang 10 tahun sejarah saya trading, selama saya mengikuti beberapa aturan inti, saya tidak pernah rugi.  Saya baru rugi ketika saya tidak mengikuti aturan yang sudah saya tetapkan sendiri sebelumnya.  Pasar punya cara sendiri menggoda trader, dan trader perlu respect terhadap pasar, tapi tetap punya aturan untuk sukses.

Coba kamu pelajari 25 aturan di bawah ini dan bacalah setiap hari sebelum kamu trading.  Pengkondisian pikiran itu penting dan aturan-aturan ini akan membantu kamu trading lebih terfokus dan lebih menguntungkan.

Read more

Kodawari

March 20th, 2012

Dosen Saham

Sabtu lalu di koran saya membaca sebuah kolom kecil tentang Kodawari.  Kodawari adalah kata yang digunakan orang Jepang untuk menggambarkan fokus, obsesi, keuletan, kegigihan, dan kesungguhan mutlak dalam mengerjakan hal-hal paling remeh sekalipun.  Dengan kodawari, tidak ada satu langkah pun yang tidak penting.  Melalui kodawari, setiap aktivitas punya makna yang sangat berpengaruh dalam suatu rangkaian proses.  Berapa detik soba (mie jepang) harus direbus? Pada temperatur berapa derajat celcius?  Apa ukuran ideal sushi atau sashimi sehingga dapat dilahap sekaligus?  Bagaimana penyajian yang mengundang selera, tapi tidak berlebihan?  Secara mudah mungkin bisa disimpulkan kalau kodawari adalah niatan dalam setiap aksi.  Pemahaman ini jadi membuat saya bertanya-tanya apakah setiap aktivitas yang saya lakukan sudah dilandasi oleh niatan yang tepat, sahih, dan relevan?

The difference between ordinary and extraordinary is just that little extra.  Banyak cerita sukses sudah diperdengarkan, tetapi yang sering terlupakan adalah langkah-langkah kecil penuh niatan yang merangkai setiap kisah sukses tersebut.

Practice does not make perfect – perfect practice make perfect.  Sebagai sebuah seni, analisa teknikal membutuhkan keahlian dari praktisinya untuk bisa berjalan dengan baik dan menghasilkan keuntungan.  Ingat, keuntungan adalah hasil akhir.  Bisa saja hanya dengan keberuntungan (blind luck) keuntungan didapat, tapi jika ingin return yang benar-benar konsisten, maka seorang praktisi juga harus benar-benar belajar dengan serius tentang dasar-dasar analisa teknikal dan memahami pasar melalui sumber-sumber yang terpercaya dan latihan yang sering dan terarah, dilandasi dengan niatan yang benar.

Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari kebiasaan.  Kabar baiknya, perubahan sedikit pada kebiasaan bisa jadi penentu arah hidup seseorang.  Kabar buruknya, sebagian besar kebiasaan dilakukan dengan niat salah atau lebih buruk lagi, tanpa niat sama sekali.  Apakah ada kebiasaan buruk yang hendak kamu hilangkan?  Apakah ada kebiasaan baru yang ingin kamu lazimkan?  Kodawari!  Pastikan dulu untuk diniatkan sebelum mulai melakoninya dan setelah itu, jalankan setiap langkah dengan penuh niat.  Pastikan setiap tarikan garis, setiap tindakan,  beli atau jual, dilakukan dengan penuh niat.  Hilangkanlah kebiasaan menahan saham yang sedang turun atau mencoba menangkap pisau jatuh, atau mencari rekomendasi.  Mulailah melakukan analisa sendiri, mengakumulasi keuntungan saham yang terus naik, dan rajin sharing dan bersedekah.

Cobalah dan rasakan bedanya. (@pojoksaham)

Random Walk? Self-Fulfilling Prophecy?

March 3rd, 2012

Dosen Saham

Random Walk Theory dan Self-Fulfiling Prophecy adalah dua hal yang sering dijadikan kritikan pihak akademisi dan non-praktisi kepada analis teknikal atau trader atas tindakannya mencoba “memprediksi” pergerakan harga saham. Di sini saya ingin mencoba sharing pengetahuan saya tentang kedua masalah ini.

Random Walk Theory

Random Walk Theory, atau terjemahan bebasnya Teori Jalan Acak. Bayangkan orang mabuk (atau mikrolet atau bajaj di ibukota, kalau kamu inginkan). Kamu tidak akan bisa menebak dia akan berbelok ke kiri atau ke kanan, atau jalan lurus saja. Atau bahkan berhenti di tengah jalan.  Begitu juga orang lain. Tidak ada yang bisa.  Hanya supirnya dan Tuhan yang tahu.

 

Mikrolet Berbelok: Contoh Nyata Random Walk

Para penganut Random Walk Theory ini (biasanya akademisi) menganggap harga saham itu seperti mikrolet. Kamu tidak akan pernah bisa memperkirakan besok dia akan naik atau turun, dan semua usaha untuk menganalisa jalannya gerakan pasar modal dan harga saham itu percuma, atau tidak ada gunanya.

Dan bukan cuma dia saja, akademisi dan profesor (Ph.D.) seperti Nassim Nicholas Thaleb (penulis buku “The Black Swan” dan “Fooled by Randomness“) juga memiliki argumen tentang randomness atau keacakan. Tapi Thaleb adalah filsuf dengan pemikiran yang luas, sehingga walaupun dia mengkritisi randomness, sasarannya terutama adalah para penjual option. Saya yakin, sebagai trader, saya dan dia kalau ngobrol akan cocok (terutama tentang manajemen resiko).

Kalau menurut saya (dan analis teknikal yang baik tentu akan setuju), gerakan harga saham itu tidak acak. Bisa jadi para akademisi tersebut terlalu mengandalkan model-model komputernya. Mereka lupa, komputer yang paling canggih yang diciptakan oleh Tuhan tetap adalah otak manusia. Akademisi secara teoritis mencoba mensimulasi gerakan pasar modal, dan gagal menemukan suatu formula, suatu alat prediksi yang bisa memprediksi harga, dan menyatakan, “pasar modal merupakan random walk”.

Seorang anak berumur sepuluh tahun yang tidak pernah menyentuh piano, melihat Richard Clayderman memainkan Fur Elise. Tangannya terlihat menari-nari di atas tuts. Dia mungkin menganggapnya sangat sulit sehingga terlihat berjalan sendiri secara acak. Random walk? Komputer tidak bisa membuat nyanyian seperti Adele atau Depapepe. Kita masih membutuhkan penyanyi dan musikus untuk membuat musik.

Bukankah sama saja?  Program yang dia gunakan untuk modelling tidak cukup sensitif atau prosesornya tidak cukup kuat untuk meniru otak manusia.

Self-Fulfilling Prophecy

Ada lagi yang bilang bahwa di pasar modal berlaku Self-Fulfilling Prophecy, atau terjemahan bebasnya, ramalan yang terwujud sendiri. Disebutkanbahwa  karena cukup banyak trader yang melihat formasi harga yang sama, maka akhirnya prediksi para trader tersebut terwujud dengan sendirinya.

Pernyataan ini tidak lengkap. Banyak sekali hal dan intrik di pasar modal, sehingga seringkali harga tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan kebanyakan orang.

Hal ini mengingatkan saya pada “kegilaan” beberapa tahun lalu (mungkin masih ada gaungnya) tentang Law of Attraction, dimana orang yang membawa pengaruh buruk harus “disingkirkan” dari hidupmu, dan kita hanya boleh bergaul dengan orang sukses saja.  Di situ, kita bisa mendapat banyak uang hanya dengan berpikir kita akan mendapat banyak uang.  Hmm… terdengar kekanak-kanakan?  Sebagai placebo karena banyak yang mulai bangkrut di Amerika Serikat (mungkin karena mengikuti Rich Dad), ya, mungkin berguna.  Tapi sebenarnya yang jadi kaya tetap cuma tetap cuma segelintir orang saja, dengan, atau tanpa LoA (salah satunya pembicara dan penulis bukunya). (EN: mohon maaf atas kesinisannya)

Jangan takut, matahari akan tetap ada di pusat tata surya untuk SEMUA orang…

Mengapa pasar modal bukan merupakan Self-Fulfilling Prophecy?  Contoh paling mudah adalah di market bottom atau permulaan wave satu, biasanya banyak sekali analis dan trader, serta masyarakat umum yang masih berpendapat bahwa harga akan terus turun lagi. Jika Self-Fulfilling Prophecy, tentunya harga akan terus turun karena banyak sekali yang memprediksi harga akan terus turun.

Faktanya, ada segelintir pihak yang mengakumulasi di harga murah tersebut. Biasanya pihak-pihak ini adalah minoritas. Ingat Prinsip Pareto.  Sebagian besar uang di dunia… dikuasai oleh segelintir orang saja.

Atau Cramer Bounce, setelah suatu saham “diiklankan” di CNBC oleh Jim Cramer, harga melonjak sesaat.  Tapi setelah itu kembali ke harga semula, di luar perkiraan banyak orang.

Catatan Kaki dari Analis Teknikal

Analis teknikal, yang memantau perkembangan harga saham, mengetahui bahwa harga merupakan gabungan atau akumulasi dari banyak sekali faktor dan pandangan yang mempengaruhi: ketakutan, keserakahan, keinginan, kelicikan, kecurangan, kenaifan, perkiraan pendapatan (earnings estimates), kebutuhan broker untuk komisinya, kebutuhan manajer investasi untuk performa dan keamanan karirnya, permintaan dan penawaran dari saham, likuditas uang (kebijakan moneter) dan arus dari dana (asing/lokal, hot money, dll), tendensi untuk menghancurkan portofolio, kepasifan, jebakan, manipulasi, arogansi, konspirasi, fraud, dan dua muka, fase bulan dan matahari, siklus ekonomi dan pandangan masyarakat mengenainya, mood publik, dan kebutuhan manusia untuk menjadi benar.

Di tangan chartist (sebutan lain untuk analis teknikal) yang berpengalaman, chart (grafik harga) bisa menceritakan banyak hal. Namun, seperti seni lainnya, butuh jam-jam membosankan untuk belajar analisa teknikal. The Beatles telah bermain musik selama 10.000 jam sebelum terkenal. Di Hamburg. Di kafe pelaut yang sangat bising.

Formasi dari gerakan harga adalah “bahasa” dari pasar kepada kita… jika kita mau mendengar bisikannya…